Tuesday, July 9, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 10 JULI 2013

AMSAL 14:6-10

6 Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh. 7 Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati dari bibirnya.
8 Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya. 9 Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan. 10 Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya.

Pendahuluan
Kitab Amsal dalam bahasa Ibrani adalah “Mishele Shelomo” yang berarti Amsal Salomo (1:1). Amsal memperoleh nama dari isinya, yakni pepatah atau peribahasa yang menyampaikan kebenaran dengan cara perbandingan. Kata ‘amsal’ (Ibrani : masyal) artinya melambangkan, menyerupai, misal, perumpamaan, dan juga dapat berarti paralel, serupa atau perbandingan. Dalam kitab lain masyal mungkin berarti sindiran (Ul . 28 :37, Yeh. 14 :8), atau nyayian ejekan (Yes. 14 :4) dimana orang-orang yang dimaksudkan jelas menjadi contoh pengajaran.

Kitab Amsal digolongkan ke dalam kitab hikmat. Amsal adalah  pengajaran moral dan spiritual tentang bagaimana sikap hidup setiap hari. Amsal merupakan ucapan hikmat dari guru-guru yang mengetahui hukum Allah dan ingin menerapkan prinsip-prinsipnya pada segala aspek kehidupan. Inti pengajaran dari kitab “Amsal adalah hiduplah takut akan Tuhan”. Kehidupan yang tidak takut akan Tuhan menuju kepada kebebalan hidup tanpa kendali. Jadi tujuan Amsal adalah memberi petunjuk bagaimana melakoni hidup yang sukses dengan memberikan ilustrasi baik secara positif maupun negatif. 

Telaah Teks
Pasal 14 kitab Amsal ini merupakan bagian dari kumpulan dari amsl-amsal Salomo yang mulai dihimpun dari pasal 10 hingga pasal 24 kitab amsal. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Salomo memberikan beberapa strategi kehidupan untuk mencapai kesuksesan hidup sesuai arah dan jalan yag ditentukan Tuhan, yakni lewat hikmat yang berasal dari Allah. Pada ayat 6-10 kitab Amsal 14, terdapat beberapa hal penting yang disampaikan Salomo, yakni:
1.       Seperti yang disebutkan di atas bahwa menjalani hidup dengan hikmat membawa keuntungan dan kesuksesan. Namun hanya orang yang takut akan TUHAN sajalah yang akan beroleh hikmat itu (1:7).  Hal ini ditegaskan Salomo dalam ayat 6 bacaan kita dengan membandingkan kehidupan seorang pencemooh. Menurut Salomo seorang pencemooh tidaklah mungkin memperoleh hikmat.

Mengapa? Sebab pencemooh adalah orang yang congkak dan angkuh; tidak pernah menerima ajaran orang lain; segala hal menjadi cemoohan olehnya. Ia merasa paling benar dan baik; segala yang dilakukan orang lain dianggap salah dan dicemooh olehnya. Dengan kata lain, adalah mustahil seorang pencemooh merupakan pribadi yang takut TUHAN. Jika demikian adalah mustahil baginya untuk memperoleh hikmat menjalani hidup ini dan kemudian beroleh kesuksesan.

Pada bagian ini Salomo mengingatkan bahwa sepandai-pandainya seeorang mencari hikmat, namun hidupnya tidak takut kepada TUHAN, maka kepinteran dan pengetahuannya akan sia-sia. Sebab pengetahuan tanpa hikmat untuk memanfaatkan adalah kehancuran hidup.  Banyak orang cerdik dan pandai; banyak yang memiliki kepinteran dari segi ilmu dan pengetahuan. Namun butuh pengertian yang benar atau hikmat untuk menyikapi dan mengola penetahuan supaya beroleh kesuksesan hidup di jalan yang benar.

2.       Selanjutnya dalam ayat 7 bacaan kita, Salomo memberikan nasehat penting bagi siapapun yang tidak ingin senasib dengan si pencemooh itu. Nasehatnya sederhana, yakni berhati-hati dalam bergaul dan memilih teman dalam jalani kehidupan ini. Jangan mau bergaul dengan orang bebal atau si pencemooh tadi, sebab bukan kebaikan yang akan kita dapat darinya namun justru keburukan dan kemalangan hidup.

Mengapa demikian? Sebab mulut dan bibir orang bebal (pencemooh) tidak pernah melahirkan hikmat untuk membangun hidup lebih baik.  Pada pasal 13 ayat 19 Salomo menyebut bahwa sulit bagi orang bebal untuk berubah. Karakter dan gaya hidup mereka adalah melakukan kejahatan.  Sehingga bagi orang bebal, adalah kekejian jika melakukan kebenaran atau menghindari kejahatan. Mereka justru harus dan sengaja berbuat kejahatan. Sebab Aneh bagi orang bebal untuk berbuat baik.
Jika tidak ada kebenaran dalam hidup orang bebal; dan jika segala kejahatan saja yang ada dalam kehidupannya, maka adalah kebodohan jika seseorang mau bergaul dengan orang bebal. Salomo menasehati dengan bijak bahwa kita perlu menjauhi diri dari mereka agar tidak mengalami keburukan dalam hidup ini akibat kejahatan dan ketidak-benaran mereka.

3.       Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa seorang pencemoh selalu merasa benar seakan tidak ada kesalahan dalam dirinya, maka sudah pasti akan sulit bagi orang bebal untuk merasa diri berdosa. Hal ini jelas nampak dalam ayat 9 bacaan kita. Menurut Salomo, orang bebal mencemooh korban penebusan dosa. Mengapa? Karena mereka menganggap hidup mereka tidak ada dosa sehingga tidak perlu korban penebusan dosa.

Apakah dampaknya? Setiap orang yang tidak pernah menyadaro dirinya berdosa, tidak akan pernah mungkin mengaku dosanya. Jika orang tidak pernah mengakui dosa dan merasa diri benar, maka bagaimana mungkin beroleh pengampunan dari Allah? Selanjutnya jika tidak beroleh pengampunan dari Allah, maka gamana caranya orang itu akan dibenarkan oleh Allah? Jika tidak dibernarkan, maka tidaklah mungkin Hikmat TUHAN akan dianugerahkan Allah kepadanya.  Jika tidak ada hikmat TUHAN, sudah pasti tidak ada satupun manusia dapat menjalani kehidupan dan meraik kesuksesan hidup sesuai dengan rencana Allah.

Apakah rencana Allah itu bagi manusia? Rencana Allah bagi manusia adalah Damai Sejahtera (Yeremia 29:11). Dengan demikian, tidak mungkin bagi seorang  pencemooh, yang selalu merasa benar itu, akan beroleh Damai sejahtera dan kesuksesan hidup. Orang yang merasa diri benar tidak mungkin memperoleh janji Allah yakni damai sejahtera hidup. Perlu pertobatan dari dosa dan pengakuan di hadapan Allah untuk beroleh pembenaran supaya menerima janji2 penyertaan TUHAN dalam kesuksesan hidup ini. Sebab bukankah doa orang benar, besar kuasanya?


Aplikasi dan Relevansi
Silakan mempelajari 3 pokok pemikiran Salomo ini dan hubungkan dengan kehidupan kita sehari-hari demi mencapai kesuksesan hidup.





No comments:

Post a Comment

Post a Comment