Sunday, June 9, 2013

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 12 JUNI 2013



I PETRUS 2:13-15

PENGANTAR
Surat Petrus Yang Pertama ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil. Mereka disebut "umat pilihan Allah". Maksud utama surat ini ialah untuk menguatkan iman para pembacanya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus mengingatkan para pembacanya akan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka. Sebab, Yesus Kristus sudah mati, hidup kembali dan berjanji akan datang lagi.

Para penerima surat 1 Petrus ini, hidup dalam masa-masa sukar. Mereka ada di zaman sulit. Saat dimana Kekristenan alami penganiayaan. Dibenci oleh Nero, sang penguasa. Tentu saja, bagi yang memiliki mentalitas cari aman, pilihan mengikuti jejak Yesus, bukanlah keputusan cerdas. Mereka akan memilih menolak salib, sebab itu derita. Terhadap yang setia beriman, namun minim pemahaman, Petrus bukan saja mencerdaskan, namun juga menguatkan melalui suratnya ini.

TAFSIRAN (uraian teks)
Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan 1:1-2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13-3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Himbauan berkelakuan baik di tengah-tengah masyarakat non-Yahudi dan ditengah penimdasan para penguasa yang lalim diserukan oleh Petrus melalui bacaan ini ketika umat menghadapi penderitaan. Merka harus sedapat mungkin mengembangkan sikap hidup yang baik sebagai umat yang percaya di tengah masyarakat yang tidak percaya. Mereka di minta supaya tulus hati mengindahkan lembaga penguasa yg sah; supaya hamba-hamba di bawah tuan yg baik hati ataupun jahat tetap melakukan kewajibannya dengan meneladani Kristus; supaya suami isteri saling mengasihi; supaya tetap bersatu hati; cinta kasih, lemah lembut, rendah hati, bertumbuh menuju dambaan

Perhatikan ayat sebelumnya dalam bacaan kita yakni bacaan SBU pagi kususnya ayat 12. Perus menganjurkan agar umat Tuhan tetap mempraktekkan “cara hidup yang baik”. Anjuran yang sama berulang kali diketengahkan dalam ayat-ayat  berikutnya (2:15; 2:20; 3:6, 11, 13). Dengan melakukan ini, mereka menjadi kudus … sama seperti Dia yang kudus” (1:15). Sekaligus mereka menyatakan bahwa mereka memang berada di dunia ini, tetapi “bukan dari dunia” ini (Yoh 17:115-16). Dengan memiliki cara hidup yang baik, mereka mencerminkan karakter Allah. Apa tujuannya? Supaya Tuhan tetap dimuliakan, dan kelak nanti mereka yang mencerca orang percaya akan sadar dan turut memuliakan Allah juga.

Selanjutnya, sangat mengejutkan bahwa Petrus meminta umat untuk tunduk kepada pemerintah dan wali-wali di masa itu (ay.13-14). Padahal sudah dapat dipastikan bahwa mereka sangat kecam menganiaya gereja Tuhan. Pertanyaannya adalah: Apakah kita harus selalu tunduk? Perlu diingat bahwa ini adalah suatu prinsip dan/atau patokan. Bukan suatu aturan yang ketat! Petrus sendiri pernah memberi suatu contoh, yakni ketika ia dan para  rasul lainnya dilarang keras oleh Mahkamah Agama untuk mengajar “dalam Nama [Yesus] itu”. Maka Petrus dan para rasul lainnya menjawab, katanya “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kis 5:29). Pendek kata, kita harus patuh kepada Firman dan Roh Allah, bukan kepada para penguasa .

Ketaatan orang Kristen tidak didasarkan pada alasan ketakutan ataupun alasan menghindarkan hukuman-hukuman yang menjadi ancaman dari pihak pemerintah. Sebaliknya orang Kristen mengakui penguasa-penguasa negara, karena ia sendiri merasa bertanggung-jawab terhadap para penguasa tersebut; sebab bersama-sama dengan penguasa-penguasa itu, orang-orang Kristen pun mengetahui kehendak Allah itu melalui suara hati (“pengetahuan bersama”, Rm 13:5). Berdasarkan rasa tanggung jawab itu misalnya, orang Kristen pun membayar pajak. Intinya, orang yang berbuat baik tidak usah takut kepada pemerintah. Di samping itu ada dukungan dari 1 Petrus 2:17, di mana rasa takut hanya di khususkan untuk relasi manusia dengan Allah saja.

Pengertian ayat 13 dan 14 ini kita dapatkan pada ayat 17 surat 1 Petrus 2. Ia menegaskan bahwa bukan pemerintah itu yang harus ditakuti, melainkan Allah saja. Sedangkan yang patut dihormati (serasi dengan 1 Petrus 2:17a) ialah semua orang, termasuk Kaisar. Dengan demikian terciptalah suatu jarak tertentu antara orang Kristen dengan pemerintah, namun demikian kepada pemerintah tetap patut diberi respek dan hormat, sama seperti kepada semua orang lain. artinya orang Kristen hanya boleh takut dan gentar kepada Allah namun jangan pernah tidak hormat kepada pemerintah. Namun jika pemerintah keliru dan salah, orang percaya harus memilih lebih taat kepada Allah daripada ke manusia atau pemerintah yang jahat itu.

Selanjutnya Petrus menjelaskan alasan mengapa harus terus berbuat baik kepada orang-orang jahat yang membuat umat menderita. Dalam ayat 15 Petrus menyebut dengan gamblang tujuan perbuatan baik itu, yakni untuk membungkamkan kepicikan mereka itu. Dengan kata lain, berbuat baik kepada orang jahat bukan berarti sebagai tanda “mengalah” dan membiarkan kejahatan mereka. Namun menurut Petrus, perbuatan baik adalah alat dan sarana untuk memperjuangkan kebenaran dan membungkamkan kejahatan. Dengan tegas sebenarnya Petrus ingin mengutarakan bahwa kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan. Namun lawanlah kejahatan itu dengan kebaikan. Sebab itulah panggilan orang percaya yakni berani tampil beda di tengah kondisi sulit itu.

APLIKASI DAN RELEVANSI (penerapan dalam hidup sehari-hari)
Silakan baca galian Teks atau Tafsiran di atas. Lalu hubungkan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana Firman ini harus dilakukan.

SELAMAT MENYIAPKAN PELAYANAN SAUDARA

No comments:

Post a Comment

Post a Comment