Wednesday, September 28, 2011

HAL BERPUASA




A.      Pengertian dan Tujuan Puasa atau Doa-Puasa

Dalam Alkitab berpuasa menunjukkan disiplin berpantangan makanan dengan maksud rohani. Sekalipun berpuasa sering dikaitkan dengan doa, namun puasa harus dipandang sebagai suatu tindakan rohani tersendiri. Sebenarnya puasa dapat disebut “berdoa tanpa mengucapkan kata-kata”. Ada tiga bentuk puasa yang utama yang dikemukakan dalam Alkitab, yakni:
1.       Puasa yang biasa: berpantang semua makanan, baik yang keras maupun yang lembut, tetapi tidak berpantang air. Contohnya: puasa yang dilakukan Yesus selama 40 hari (luk.4:2) dan kemudian Ia merasa lapar (tidak disebut dan merasa haus).
2.       Puasa sepenuhnya: tidak makan dan minum (Est.4:16; Kis.9:9). Pada umumnya puasa ini dilaksanakan tidak lebih dari tiga hari. Tubuh seseorang mulai menjadi kering apabila tidak mendapat air selama lebih dari dua hari. Memang Musa dan Elia melakukan puasa sepenuhnya selama 40 hari, tetapi saat itu mereka berpuasa dengan keadaan adikodrati (Kel.34:28; Ul.9:9,18; 1Raj.19:8).
3.       Puasa sebagian: pembatasan makanan dan bukan tidak makan sama sekali (Dan.10:3).

Dalam Perjanjian Lama umat Allah melakukan puasa untuk menunjukkan kerendahan hati, penyangkalan diri, dan kapatuhan kepada Allah serta mencari kasih karunia, pertolongan, perkenanan dari-Nya (Ezr.8:21,31). Kapankah dan dalam kondisi apa umat Allah tersebut melakukan puasa? Hal ini kurang dijelaskan secara terperinci dalam Alkitab, namun ada beberapa hal yang menjelaskan di saat mana mereka melakukan puasa, yakni:
1.       Ketika tertekan oleh kesusahan yang berat (2Sam.12:16-23; 1Raj.21:20-27; Mzm.35:13; 69:11).
2.       Sedang menyembah Allah pada Hari Pendamaian (bd. Im.16:29-31; 23:26-32).
3.       Ingin menunjukkan pertobatan dan penyesalan (1Raj.21:27-29; Yun.3:4-10)
4.       Sedang berhadapan dengan bahaya (2Taw.20:3; Ezr.8:21-23), penyakit (2Sam.12:15-16), dan kematian (1Sam.31:13).
5.       Sedang mempersiapkan diri untuk pelayanan (Kel.34:28; Ul.9:9-18).
6.       Mencari Allah untuk peembaharuan dan pemulihan (Dan.9:3-19).

Di atas telah disebutkan bahwa puasa sering dihubungkan dengan doa, yang biasa disebut dengan doa-puasa. Dalam Alkitab, doa puasa-pun sering dilakukan dengan tujuan untuk:
1.       Menghormati Allah (Mat.6:16-18; Za.7:5; Luk.2:37)
2.       Meredahkan diri di hadapan Allah (Ezr.8:21; Mazm.69:11; Yes.58:3) agar lebih banyak mengalami kasih karunia (1Ptr.5:5) dan mengalami kehadiran Allah yang khusus (Yes.57:15; 58:6-9).
3.       Meratapi dosa dan  kegagalan pribadi (1Sam.7:6; Neh.9:12).
4.       Meratapi dosa-dosa gereja, bangsa dan dunia (1Sam.7:6; Neh.9:12).
5.       Mencari kasih  karunia untuk tugas yang baru dan menetapkan kembali penyerahan diri kita kepada Allag (Mat.4:2).
6.       Mendekatkan diri  kepada Allah lewat  bertekun  di  dalam  doa untuk  melawan  kuasa-kuasa  rohani yang menentang (Hak.20:26; Ezr.8:21; Yl.2:12; Luk.18:3; Kis.9:8-19).
7.       Menunjukkan pertobatan dan dengan demikian memberikan kesempatan kepada Allah untuk mengubah maksudNya menghukum kita (2Sam.12:16; Yun.3:5,10).
8.       Menyelamatkan orang dari kuk kejahatan (Yes.58:6; Mat.17:14-21; Luk.4:18).
9.       Memperoleh  petunjuk dan hikmat mengenai kehadiran Allah (Kis.13:2-3).
10.   Mendisiplinkan tubuh agar dapat menguasai diri (Mzm.35:13; Rm.13:14; 1Kor.9:27)
11.   Membuka jalan bagi pencurahan Roh Kudus dan kedatangan Kristus kembali untuk umat pilihan-Nya (Mat.9:15).

B.      Tata Cara Melaksanakan Puasa atau  Doa-Puasa

         Jika kita meneliti dengan seksama tata cara pelaksanaan puasa dalam Alkitab, maka kita tidak akan menemukan secara detail bagaimana hal itu dilaksanakan. Bahkan dalam  aturan Yahudi berdasarkan Hukum Taurat –yang adalah Perjanjian Lama dalam Alkitab kita-, hal itu tidak banyak diatur.
         Namun, dalam Perjanjian Baru kita menemukan sedikit uraian tentang  bagaimana cara berpuasa sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus dalam Mat.6:16-18: "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." Dari kutipan ayat ini  kita dapat  menyimpulkan tentang kriteria atau syarat melaksanakan  puasa maupun doa puasa  dalam kekristenan saat ini, yakni:\

1.       Jangan “pamer” kepada orang lain bahwa kita sedang berpuasa
2.       Jangan lakukan dengan kemunafikan, yakni saat berbuasa justru kita sedang  melakukan dosa dan kejahatan (bd. Yes.58:4)
3.       Lakukan puasa hanya untuk Tuhan dalam ketulusan, bukan karena ingin mendapat pujian orang.
4.       Lakukan dengan wajar tanpa menarik perhatian orang.

Kapan dan bilamana puasa itu dilaksanakan? Aturan waktu pelaksanaan puasa tidak dijelaskan secara terperinci dalam Alkitab. Namun, berdasarkan uraian tentang tujuan puasa di atas kita dapat menyimpulkan bahwa puasa dilaksanakan tidak berdasarkan waktu terjadwal atau aturan baku tertentu, melainkan berdasarkan kondisi atau  kebutuhan pribadi yang akan melaksanakan puasa (bd. Dan.9:3-19). Sebagai contoh misalnya jika  ingin sembuh dari sakit dan memintah jamahan Tuhan secara khusus, orang tersebut dapat melakukan doa puasa (bd. 2Sam.12:15-16). Dengan kata lain tindakan puasa berhubungan erat dengan komitmen seseorang untuk melakukan yang  terbaik  bagi Tuhan. Perhatikanlah bahwa puasa dilakukan untuk Tuhan, sehingga soal waktu  -kapan pelaksanaannya dan bagaimana melaksanakannya- diserahkan sepenuhnya kepada tiap pribadi berdasarkan komitmen yang  ia buat.
Dalam Daniel 10:3  kita menemukan bahwa lamanya waktu puasa dan  jenis puasa yang dilakukan amat tergantung pada pilihan dan putusan pribadi seseorang yang akan melaksanakan puasa. Memang kita mendapat kesan, bahwa kegiatan puasa  seakan “tidak mendapat perhatian” Alkitab dibanding dengan kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Hal ini disebabkan karena puasa adalah sarana pelengkap dari berbagai kegiatan rohani lainnya yang tidak terikat menjadi suatu keharusan untuk dilaksanakan. Sebagai  contoh:

-          Setiap orang percaya diwajibkan untuk berdoa, namun tidak diharuskan untuk melaksanakan puasa.
-          Setiap orang percaya harus mengaku dosanya dan memohon  pengampunan dari Allah agar keselamatan yang telah ia terima tidak diambil darinya, namun tidak diharuskan  untuk melaksanakan puasa untuk memperoleh keselamatan  itu.

Itulah sebabnya Yesus tidak mempermasalahkan para murid ketika mereka tidak ikut berpuasa sebagaimana dilakukan oleh orang Israel umumnya dan para Farisi khususnya (bd. Mat.9:14). Hal ini tidak berarti bahwa berpuasa tidak memiliki keunggulan dan  kegunaan. Perhatikanlah uraian tentang tujuan dan manfaat puasa di atas! Pada  umumnya puasa menyenangkan hati Tuhan, asalkan itu diimbangi dengan perbuatan-perbuatan benar (bd, Yes.58:4), bahkan membantu memaksimalkan kuasa doa dan permohonan tertentu kepada Tuhan. Sebagai contoh, doa dan puasa mampu mengusir kuasa setan yang mengganggu kehidupan rohani dan jasmani seseorang (Mat.17:14-21).
Jika puasa adalah suatu komitmen saudara untuk dilakukan kepada Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang saudara inginkan dan berkenan dihadapan Tuhan, maka berikut ini sedikit saran cara melakukan puasa (doa-puasa):

1.       Sediakan beberapa hari untuk menyiapkan pelaksanaan puasa
2.       Tentukan Jenis Puas apa yang akan anda lakukan. Misalnya: Puasa penuh (tidak makan dan minum); Puasa biasa (tidak makan); Puasa sebagian (berpantangan makanan tertentu)
3.       Tentukan kapan akan dilaksanakan dan berapa lama. Misalnya: satu hari penuh, atau berarti 24  jam pelaksanaan (Jika dimulai jam 10.00 maka mesti berakhir pukul 10.00 esok harinya);  Bisa juga setengah hari atau 12 jam pelaksanaan (Jika dimulai pkl 07.00 maka mesti berakhir pkl 19.00). Inilah yang disebut dengan komitmen dan laksanakan komitmen itu.
4.       Tentukan tujuan dari pelaksanaan puasa itu. Misalnya: agar mendapatkan karunia  khusus; kesembuhan dari sakit;  pekerjaan dll; atau tanpa permintaan khusus hanya untuk menyenangkan hati Tuhan.
5.       Sampaikan semua komitmen saudara itu (point 2-4) kepada Tuhan melalui doa pada masa persiapan pelaksananan puasa (point 1). Ingatlah masa persiapan ini sangat penting. Isilah masa persiapan ini dengan doa dan pujian pada waktu2 tertentu di dlm kamar misalnya.
6.       Hindari segala bentuk tindakan, perkataan atau pikiran yang jahat yang akan membawa anda jatuh dalam dosa pada masa persiapan dan di saat pelaksanaan puasa. Jika tidak puasa anda batal.
7.       Karena ini adalah komitmen anda di hadapan Tuhan, maka laksanakan dengan sepenuh hati. Ingatlah jangan batalkan komitmen yang sudah diucapkan. Sebab itu merupakan “janji” anda dihadapan Tuhan. Jika tidak, maka anda “berhutang”  janji  kepadaNya. Karena lebih baik tidak bernazar, dari pada mengucapkan nazar di hadapan Allah namun tidak menepatinya. (Ul.23:21).
8.       Selama melaksanakan puasa, jangan lupa untuk menyampaikan permintaan khusus kepada Allah (melalui doa) berdasarkan tujuan puasa yang telah anda tetapkan sebelumnya (point 4)

Adakah pantangan yang mengahalangi seseorang melaksanakan puasa? Pertanyaan ini sering dihubungkan dengan beberapa aturan pada agama tertentu (Yahudi dan Islam). Satu diantaranya, jika seorang perempuan sedang “datang  bulan” (haid) maka haram hukumnya untuk beribadah, masuk dalam rumah ibadah atau melaksanakan kegiatan keagamaannya. Dalam perjanjian lama atau Hukum Taurat (kitab Kejadian-Ulangan) –yang  adalah aturan agama Yahudi- setiap  orang dilarang untuk beribadah atau menjalankan kegiatan kerohaniannya jika ia sedang dalam kondisi/keadaan Najis. Seseorang dikatakan najis jika:
1.       Terkena pada sesuatu yang najis antara lain binatang, bangkai binatang (Im.5:2)
2.       Perempuan yang baru melahirkan, ia najis selama 7 hari (Im.12:2)
3.       Jika menderita penyakit Kusta (Im.13:3)
4.       Aurat Laki2 mengeluarkan lelehan mengalami kenajisan sampai 8 hari terhitung saat lelehan itu sudah berhenti (Im.15:2-15)
5.       Laki2 yang tertumpah spermanya mengalami kenajisan sampai matahari terbenam (Im.15:17)
6.       Perempuan yang “cemar kain” atau haid mengalami kenajisan selama 7 hari  masa cemar kain ditambah 7 hari sesudahnya (Im.15:19,28)
7.       Bila menyentuh mayat mengalami kenajisan selama 7 hari (Bil.19:11).
8.       dll

Dengan demikian orang yang sedang haid, menurut Hukum Taurat dilarang beribadah dan melaksanakan kegiatan Rohani, termasuk di dalamnya Puasa. Mengapa Gereja tetap memperbolehkan perempuan yang sedang haid untuk masuk gedung Gereja dan beribadah, bahkan melayani Tuhan? Jawabannya sederhana! Bahwa Hukum Taurat yang ada dalam Perjanjian Lama tidak berlaku pada setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Perhatikan salah satu aturan Hukum  Taurat  tentang dilarang bekerja pada Hari Sabat. Waktu Yesus diprotes karena para murid bekerja pada hari sabat dan Yesus menyembuhkan orang pada hari sabat, Yesus berkata: “Anak manusia adalah Tuhan atas hari sabat (Mat.12:8; Luk.6:5). Secara tidak langsung bahwa Ia lebih tinggi dari aturan sabat, termasuk aturan Hukum Taurat.  Di tempat lain dalam Alkitab ditegaskan  bahwa  aturan  Hukum Taurat adalah penuntun Iman kepada Yesus Kristus. Jika Kristus telah hadir di dunia, maka kuasa Hukum Taurat tidak berlaku lagi (Gal.3:19-29).
Dari uraian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa aturan Hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Itulah sebabnya peraturan sunat, najis waktu haid, aturan sabat, korban bakaran dll  dalam Hukum Taurat tidak menjadi Dogma dan ajaran Gereja. Sekarang bolehkan orang berpuasa saat Haid? Jawabnya  BOLEH! Bukan kenajisan lahiriah (haid, kusta, kena sperma,  menyentuh mayat, tidak sunat dll) yang menentukan saudara tidak bisa beribadah dan melayani Tuhan melainkan kekudusan Rohanilah yang  dituntut oleh Tuhan ketika kita datang kepadanya. Kekudusan rohani misalnya: Sunat hati atau bersih hati (Kol.2:11-13; Rm.2:29); hidup benar dan menjauhkan diri dari  kejahatan dll.

C.      S i m p u l a n

Memang benar bahawa Puasa bukan suatu kewajiban dan penentu keselamatan seseorang. Namun puasa memiliki banyak kegunaan rohani dan jasmani serta mengandung tujuan yang mulia yakni dilakukan  hanya untuk Tuhan. Manfaat puasa sangatlah baik untuk kehidupan spiritual seseorang karena mengandung ajaran disiplin rohani yang  memberi pengaruh positif bagi keehidupan lahiriah. Karena itu, walaupun bukan suatu kewajiban, namun disarankan umat Tuhan perlu untuk melakukannya.

Selamat Berpuasa!!

No comments:

Post a Comment