Monday, June 13, 2011

MATERI KHOTBAH PKP 14 JUNI 2011

KISAH RASUL 13:13-31

Ibu-ibu kekasih Kristus…
Setiap orang perlu untuk jeli memanfaatkan peluang atau kesempatan. Kesempatan perlu dimanfaatkan karena hal itu tidak akan terulang lagi kesempatan yang sama dalam hidup kita.

Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh Paulus ketika mereka tiba di daerah Antiokhia di Pisidia dalam rangka memberitakan injil. Dalam ayat 15 bacaan kita disebutkan bahwa ketika pejabat rumah ibadat selesai membaca bagian Hukum Taurat dalam ibadah Sabat itu, maka mereka memberikan waktu kepada para umat, siapa yang ingin berbicara untuk membagikan kata-kata yang membangun dan menghibur umat. Kondisi ini dilihat sebagai peluang bagi Paulus. Kondisi ini dilihat Paulus dan dianggapnya sebagai kesempatan untuk memberitakan Injil kepada orang banyak tersebut.

Ibu-ibu kekasih Kristus…
Apa reaksi Paulus ketika Ia melihat kesempatan itu? Dalam ayat 16 disebutkan: “Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata: ‘Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah!” Paulus sangat peka dan jeli untuk melihat peluang dan kesempatan dalam beritakan Injil Tuhan. Ketika melihat peluang, maka ia segera memanfaatkan kesempatan tersebut. Perhatikan reakasi Paulus dalam bacaan kita: “Maka bangkitlah Paulus”. Ketika peluang itu datang, Paulus langsung bereaksi. Ia segera bangkit berdiri dan memulai berbicara kepada orang banyak. Paulus tidak ingin membiarkan kesempatan itu lewat. Ia tidak membuat alasan apapun untuk menghindar dari peluang memberitakan Injil. Sekali ada kesempatan ia langsung meraihnya untuk bersaksi bagi Tuhan.

Ibu-ibu kekasih Kristus…
Bagaimana cara Paulus memanfaatkan peluang tersebut. Perhatikan ayat 17-31 bacaan kita! Jika kita membaca uraian panjang kesaksian Paulus, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Paulus tidak setengah-setengah memanfaatkan peluang untuk berbicara di rumah ibadat tersebut. Dari uraian ynag panjang lebar tersebut, bahkan hingga ayat 14 kita dapat menyimpulkan bahwa Paulus bersaksi sangat terperinci, dengan detail yang jelas dan tidak ada yang terlewatkan. Ia memulai dari sejarah Israel dibentuk, kemudian hingga mereka dibudak di Mesir sampai kemudian pembebasan mereka dan kembali ke tanah Kanaan. Sejarah Israel dengan pemerintahan para Raja mereka diuraikan dengan begitu jelas oleh Paulus, hingga pada Tokoh Yohanes dan akhirnya munculnya mesias yakni Tuhan Yesus.

Hal ini menandakan bahwa Paulus sangat menguasai bahan kesaksiannya. Ini menunjukkan bahwa Paulus siap-sedia dalam bersaksi. Ini menunjukkan pula bahwa sebelum bersaksi, Paulus melakukan persiapan yang matang terlebih dahulu sehingga kesaksiannya menjadi sempurna dan sangat jelas dimengerti oleh umat. Dengan demikian, ada beberapa hal penting agar dapat sukses untuk memberitakan Injil, yakni:
1. Jeli melihat peluang
2. Tidak ragu memanfaatkan peluang
3. Menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya
4. Menyampaikan dengan rici, jelas dan sempurna.
Inilah konsep cara bersaksi dan memberitakan injil, yang nampak jelas dalam bacaan kita yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas.

Ibu-ibu kekasih Kristus…
Dari beberapa uraian di atas ada pokok-pokok penting yang dapat kita bahwa pulang sebagai orang percaya, yakni:

1. Jelilah melihat peluang untuk bersaksi
Seorang Pendeta yang sedang berkeliling mengunjungi jemaat, mampir di rumah salah satu keluarga. Ia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah sekali dari seorang anak kecil, anak laki-laki satu-satunya dalam rumah itu yang berusia empat tahun. Kemudian ia menemukan satu alasan mengapa anak itu bersikap ramah dan sopan. Ibunya berada di belakang, sedang mencuci pakaian yang cukup banyak dan kelihatan amat melelahkan. Di saat bersamaan anak itu datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah, sambil berkata: “Mama, mama..., apa yang sedang dilakukan pria dalam foto ini?” Alangkah kagumnya Pendeta itu ketika melihat ibu anak itu segera mengeringkan tangannya, meninggalkan cuciannya, duduk dikursi, memangku anak itu, dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit menjawab beberapa pertanyaan putranya. Setelah anak itu pergi, Pendeta mengomentari perlakuan dan sikapnya yang istimewa untuk menjawab pertanyaan putranya itu, dan mengatakan kepada wanita itu: “Kebanyakan kaum ibu tidak akan mau diganggu”. Ibu itu menjawab: “Saya masih dapat mencuci pakaian ini selama sisa hidup saya, tetapi tidak akan pernah lagi putra saya menanyakan pertanyaan yang sama seperti tadi”. Dan ia melanjutkan lagi: “Mungkin dengan hal sederhana ini, putraku akan semakin mengerti bahwa kami sangat mencintainya.” Pendeta itu menganguguk setuju, sambil menimpali: “dan bukankah itu adalah bentuk pelayanan dalam keluarga?”

Kita harus jeli melihat peluang, bukan sebaliknya mengganggap peluang untuk memberitakan Firman itu sebagai suatu gangguan. Cerita di atas memang bukan kisah nyata, hanya suatu ilustrasi. Namun itu suatu cermin bagi kita dalam melaksnakan Firman Tuhan hari ini. Sebagaimana Paulus sangat jeli melihat peluang itu, demikian ibu tersebut tahu bahwa moment seperti itu hanya datang sekali seumur hidup. Kita dapat mulai melihat peluang untuk mengajarkan Firman Tuhan, melalui keluarga terlebih dahulu. Memberi waktu lewat mengajarkan hal-hal penting kepada anak-anak adalah hal yang sederhana dapat kita lakukan. Supaya mereka-pun dapat mengenal Tuhan Yesus dengan cara sederhana dan justru itu dimulai di dalam rumah.

2. Manfaatkan Peluang untuk Bersaksi.
Sebagaimana Paulus dengan cepat, berekasi dengan cepat memanfaatkan peluang untuk bersaksi tentang Tuhan Yesus, maka demikian juga dengan kita. Paulus harusnya memberikan inspirasi bahwa dalam segala keadaan dan tempat kita dapat bersaksi. Di Antiokhia peluang itu dimanfaatkan Paulus. Kita juga pasti memiliki berbagai Antiokhia baru sebagai tempat dan peluang kita berkesempatan untuk bersaksi. Entah di rumah untk anggota rumah, dikantor untuk sesama karyawan ataupun di sekolah.

3. Perlu menyiapkan diri dulu sebelum bersaksi.
Perhatikan uraian Paulus tentang kesaksiannya itu. Sangat detail dan spesifik. Paulus menguasai benar bahan pembicaraannya dan menyiapkan dengan baik. Mustahil akan begitu bagus yang diucapkan Paulus ini jika ia sendiri tidak menguasainya. Dan tidaklah mungkin menguasai bahan kesaksian tersebut jika ia sendiri tidak mengalaminya dan kemudiaan menyiapkannya.

Bukankah kita juga telah mengalami Tuhan Yesus dan kemurahan Kasihnya itu, sebagaimana Paulus mengalami-Nya di Damsyik? Perbedaannya adalah Paulus pasti menyiapkan semuanya dengan baik. Kita sudah memiliki bahan kesaksian sendiri tentang Tuhan Yesus menurut pengalaman iman masing-masing, sekarang kita perlu menyiapkannya agar menjadi bahan kesaksian kita bagi orang lain. Inilah wujud dari keinginan kita untuk bersedia bersaksi bagi kemuliaan Tuhan.

Marilah menjadi saksi Kristus. Mulailah di rumah kita masing-masing. Tidak harus yang besar dan muluk. Apapun yang kita alami tentang Kasih Tuhan, kita bagikan kepada mereka itu adalah juga suatu kesaksian iman. Selamat bersaksi. Amin.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment