Tuesday, May 10, 2011

MATERI KHOTBAH PKB 09 MEI 2011

MATERI KHOTBAH PKB 09 MEI 2011
ROMA 5:12-17


Persekutuan Kaum Bapa Yang dikasihi Tuhan
Pada Hari minggu kemarin, sesuai bacaan SBU kita telah mendengar tentang kuasa penebusan dari dosa melalui Kasih Karunia Allah yang diberikanNya kepada dunia lewat Yesus Kristus. Dengan Kasih Karunia itu, semua orang yang beriman kepadaNya dibenarkan dan beroleh pendamaian di hadapan Allah. Dengan demikian, kita yang percaya tidak memperoleh hukuman maut sebagai upah dosa, sebaliknya kita diselamatkan dan ditebus dari kuasa maut itu.

Bacaan kita hari ini dalam ayat 12-17, Paulus menjelaskan sejarah dosa dan bagaimana proses penebusan itu dilakukan. Di bacaan kita secara terperinci Paulus menyebut tentang manusia pertama, yakni Adam sebagai sumber dosa; dan manusia kedua yakni Yesus Kristus sebagai pemutus kuasa doa.

Pada ayat 12, Paulus menjelaskan, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Di sini, Paulus kembali menjelaskan konsep dosa yang sudah dijelaskannya tetapi dengan penekanan pembeda antara manusia lama yaitu di dalam Adam dengan manusia baru yaitu di dalam Kristus. Di ayat ini, Paulus menjelaskan tentang ngerinya dosa dengan tiga bagian penjelasan, yaitu :

Pertama, dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang. Kata “oleh” menurut bahasa Yunaninya lebih tepat diterjemahkan through (melalui), sehingga arti aslinya adalah dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang. Satu orang yang dimaksud adalah Adam (Kejadian 3:6). Adam sebagai perwakilan umat manusia yang berdosa, karena dia dahulu yang mendapat mandat dari Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan baik dan jahat (Kejadian 2:16-17). Adam yang telah menerima mandat itu seharusnya mengajar Hawa dan menegur tindakannya ketika Hawa berbuat salah/dosa, karena yang menerima mandat dari Allah adalah suami/pria, tetapi realita yang terjadi adalah Adam tidak menegur Hawa malah menyetujui tindakan Hawa. Itulah dosa.

Di dalam Kejadian 3:6, ada beberapa dosa yang dilakukan Hawa, yaitu : pertama, melihat dengan bayang-bayang yang tidak beres. Dosa dimulai ketika seseorang mulai melihat apa yang tidak seharusnya dilihat dengan motivasi yang tidak beres. Melihat perempuan yang cantik dan seksi tidak ada larangannya, tetapi melihat perempuan yang cantik dan seksi serta menginginkannya, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa hal itu adalah dosa perzinahan (Matius 5:28). Hal yang sama juga dilakukan oleh Hawa, yaitu melihat buah pengetahuan yang baik dan jahat dengan bayangan bahwa buah itu enak/sedap dimakan dan memberikan “pengertian”. Kedua, setelah melihat dengan bayangan yang tidak beres, Hawa memutuskan untuk mengambil buah itu dan memakannya. Kalau di titik pertama, sesuatu dikatakan dosa jika melihat dengan motivasi/bayangan yang tidak beres, maka Hawa lebih kurang ajar lagi, karena ia berani mengambil keputusan yang lebih berdosa, yaitu mengambil buah itu dan memakannya.

Kedua, dosa menghasilkan maut. Kalau kita kembali ke Kejadian 3, maka kita membaca bahwa setelah Adam dan Hawa berdosa, meskipun mereka masih “hidup” tetapi secara rohani mereka sudah mati (terputusnya hubungan antara Allah dengan manusia) dan nantinya, mereka akan mati secara fisik secara perlahan-lahan. Dengan kata lain, kata “maut” atau kematian mempunyai beberapa arti, yaitu pertama, mati secara fisik, yaitu ketika kita meninggal dan dikuburkan ; kedua, mati secara rohani, yaitu terputusnya hubungan antara Allah dengan manusia dan ketiga, mati kekal adalah kematian selama-lamanya di neraka. Dan dosa manusia mengakibatkan ketiga macam kematian itu. Orang-orang yang masih menyangkal dan di luar Kristus pun pasti mengalami tiga jenis kematian ini. Ini membuktikan kengerian efek dari dosa.

Ketiga, maut telah menjalar kepada semua orang karena semua orang telah berbuat dosa. Ketika manusia pertama harus mati akibat dosa, maka kita yang hidup di zaman modern pun harus mati. Kita yang modern saat ini memiliki kecendrungan untuk menerima dan melakukan kecenderungan Adam yakni tidak taat kepada TUHAN. Apa yang Adam lakukan adalah ketidak-taatan. Kuasa dosa membuat kita juga sering lebih senang tidak taat. Sehingga sejak peristiwa taman Eden kita semua cendrung berbuat dosa dan menjadi pendosa.

Persekutuan Kaum Bapak yang dikasih Tuhan.
Bukan hanya dosa, maut pun dijelaskan Paulus di ayat 14, “telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.” Kata “berkuasa” dalam bahasa Yunani basileuō identik dengan kerajaan/kekuasaan raja. Dengan kata lain, kematian mau tidak mau harus dialami oleh semua orang, bahkan para nabi Allah sekalipun (kecuali atas perizinan Allah, seperti kasus Henokh—Ibrani 11:5). Artinya, mereka yang juga tidak berdosa seperti Adam pun harus menanggung akibat Adam, karena yang namanya dosa tetap harus dihukum.

Bagaimana dengan kita? Banyak orang seringkali berargumentasi bahwa kita tidak sejahat Adam, tetapi mengapa kita tetap harus menerima hukuman? Seperti yang telah dijelaskan di atas, kita sudah mewarisi dosa asal dan dosa itu tetap harus dihukum. Jangan pernah mengukur dosa dari skala kecil atau besarnya, tetapi ukurlah dosa di hadapan Allah yang Mahakudus, maka kita baru akan sadar betapa jijik dan joroknya kita di hadapan-Nya. Jalan keluar dari masalah dosa ini sudah disebutkan sedikit oleh Paulus di ayat 14 yaitu “Dia yang akan datang.” Hal ini dijelaskan lagi secara rinci di ayat 15.

Banyak manusia dunia mencari jalan agar keluar dari jerat dosa misalnya dengan berbuat amal, menuruti syariat-syariat agama, dll, tetapi apa yang Tuhan sendiri ajarkan ? Melalui Paulus, Tuhan mengajarkan, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.

Di sini, Paulus membandingkan sekaligus memisahkan dua hal yaitu antara karunia Allah dan pelanggaran (bahasa Yunaninya berarti penyelewengan) Adam/manusia.

Dampak dari pembedaan kasih karunia Allah vs penyelewengan Adam adalah pembenaran oleh iman vs penghukuman. Hal ini dipaparkan Paulus di ayat 16, “Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran.” Dengan kata lain, penghakiman berlaku atas satu orang yang melakukan dosa/pelanggaran/penyelewengan atau karena satu orang berdosa, maka Allah memvonis mereka “bersalah/berdosa”, tetapi pembenaran oleh iman dari Allah berlaku bagi banyak orang yang sudah berdosa atau meskipun banyak orang berdosa (tidak hanya satu orang saja), Allah dengan kedaulatan, kasih dan keadilan-Nya menyatakan bahwa mereka tidak bersalah lagi atau dinyatakan benar. Inilah letak keunggulan anugerah Allah yang jauh lebih indah dan berharga daripada apapun juga. Pembenaran oleh iman menunjukkan kasih sekaligus keadilan-Nya kepada manusia pilihan-Nya.

Pembenaran melalui iman menunjukkan kasih-Nya, karena Ia mengetahui bahwa dengan usaha sendiri, manusia tak mungkin bisa mencari jalan keluar dari jerat dosa, sehingga Ia mengaruniakan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk mati disalib demi menebus dosa manusia pilihan-Nya, sehingga mereka (umat pilihan-Nya) cukup bertobat dan beriman di dalam Kristus dengan sungguh-sungguh, mereka pasti dibenarkan dan diselamatkan. Pembenaran melalui iman menunjukkan keadilan-Nya, karena hanya umat pilihan-Nya yang menerima pembenaran oleh iman, dan sisanya secara otomatis “dibuang” oleh-Nya. Saya bisa menyimpulkan hal ini karena di ayat ini, pembenaran oleh iman dikatakan berlaku bagi banyak orang (bukan semua orang) ! Kata “banyak orang” tentu menunjuk kepada orang-orang yang telah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4).

Persekutuan Kaum Bapak yang dikasih Kristus.
Sudahkah kita sadar akan dosa kita dan dampaknya? Sudahkah kita hari ini datang dan kembali kepada Kristus? Sudahkah kita mengalami hidup berkelimpahan di dalam Kristus ketika kita datang kepada-Nya sekarang? Kita bersyukur bahwa meskipun kita dipenuhi oleh ketidak berdayaan dosa, TUHAN telah mengasihi dan menyelamatkan kita. Karena itu marilah menjaga hidup kita tetap benar dihadapanNya lewat melakukan semua yang TUHAN kehendaki dalam hidup kita. Amin.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment