Tuesday, May 3, 2011

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR RABU 04 MEI 2011


MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR RABU 04 MEI 2011
YOSUA 6:1-5


JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Setelah orang Israel selesai perayaan Paskah di Gilgal, kini tiba saatnya mereka “merebut” Kanaan dan memasuki Kota Yerikho, tanah perjanjian yang dianugerahkan TUHAN, Allah mereka. Untuk maksud itulah, maka TUHAN, Allah Israel memanggil Yosua untuk menyiapkan pemimpin umat itu melakukan startegi perang supaya selanjutnya ia dapat menyiapkan bangsa yang dipimpinnya itu berhasil merebut Kanaan.

Pada ayat 1-5 bacaan kita, ada beberapa hal penting yang disampaikan TUHAN kepada Yosua, menyangkut persiapan perang tersebut dan bagaimana cara agar mereka dapat memenangkannya. Menarik untuk diperhatikan bahwa kondisi masyarakat Yerikho sendiri sudah berada dalam ketegangan dan ketakutan, walaupun belum terjadi penyerbuat atas mereka. Apa yang dinyatakan dalam ayat 1 bacaan kita memberikan gambaran yang jelas bahwa mereka sudah mendengar tentang dasyatnya Israel dan pendampingan TUHAN atas keturunan Abraham itu.

JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Ada beberapa penekanan penting dari berbagai persiapan yang TUHAN sendiri bicarakan dengan Yosua mulai dari ayat 2-5 bacaan kita. Pokok penting inti pembicaraan itu adalah sebagai berikut:

1.       Arti kemenangan mereka kelak.
Ayat 2 bacaan kita, berbunyi: “Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.” Perhatikanlah istlah “Aku” dalam kalimat “Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini” yang disampaikan TUHAN kepada Yosua. Hal ini memberikan penekanan yang kuat bahwa kemenangan mereka terjadi karena TUHAN. Bahwa benar Israel-lah yang menghunus pedang dan membunuh lawan, namun kemenangan itu sesungguhNya adalah anugerah dan pemberian TUHAN.

Sejak awal hal ini dengan sengaja ditekankan TUHAN, Allah Israel kepada umat-Nya melalui Yosua, supaya mereka selalu mengingat bahwa apapun yang mereka alami dan jalani mulai dari Mesir sampai ke Kanaan itu hanya terjadi karena TUHAN. Memang benar, bahwa kelihatannya Bangsa Israel-lah yang berperang, namun sesungguhnya peperangan itu adalah Peperangan TUHAN, Allah mereka dalam rangka menggenapi Janji-Nya bagi keturunan Abraham tersebut.

2.       Kunci kemenangan dan keberhasilan
Jika kita memperhatikan detail ayat 3-5 bacaan Alkitab ini, maka ada kesan bahwa startegi yang dipakai TUHAN untuk merebut Yerikho terlalu bertele-tele dan terkesan agak merepotkan, bahkan membuang waktu untuk dikerjakan. Siapapun pasti setuju bahwa ada cara lain untuk memperoleh kemenangan itu dari pada strategi keliling tembok sekali 6 hari dan 7 kali pada hari ketujuh. Bukankah TUHAN yang berperang dengan Israel? Mengapa Ia tidak langsung saja merobohkan tembok itu pada hari pertama? Atau mengapa Ia tidak musnakan saja Yerikho seperti Sodom dan Gomora?

Jika dilanjutkan, maka pertanyaan “mengapa” ini tidak akan berhenti. Bisa jadi, bahwa apa yang kita pertanyakan saat ini, adalah yang juga dipertanyakan oleh Israel pada waktu itu. Dan jika perintah ini terus dipertanyakan tanpa ada niat melaksanakan, maka pastilah tembok Yerikho itu tidak akan pernah runtuh.

Yang paling penting bagi umat Israel pada waktu itu adalah bukan usaha mencari jawaban atas pertanyaan dari terbitnya perintah itu. Yang utama dan mendesak untuk mereka adalah mengerjakan dengan ketaatan; melakukan dengan iman; dan menjalaninya dengan pengharapan. Inilah kunci keberhasilan kemenangan besar yang dijanjikan TUHAN atas mereka. Ada tiga kesimpulan penting dari kata kunci kemenangan mereka:
-          Israel hanya mungkin menang, jika mereka melakukan dengan taat semua perintah itu tanpa harus bertanya mengapa.
-          Israel hanya mungkin menang, jika mereka berperang dengan iman bahwa TUHAN, Allah mereka akan melalukanNya untuk mereka.
-          Israel hanya mungkin menang, jika mereka memiliki pengharapan bahwa janji TUHAN, Allah mereka pastilah digenapi. Bahwa dia tidak pernah ingkar janji. Dalam tahap ini, sudahlah pasti bahwa pengharapan itu tidaklah mengecewakan.

3.       Kewajiban agamawi atau hanya tugas militer biasa
Merebut Kanaan dan menghancurkan tembok kota Yerikho seharusnya dipandang bukan saja sebagai suatu kegiatan perang biasa pada zaman itu, atau umat Israel hanya melihat sebagai suatu kewajiban Militer untuk melaksanakan perang terbuka di sana. Namun justru harus dilihat juga dengan cara pandang yang berbeda yakni sudut pandang religiusitas atau sisi keagamaan yang mengandung nilai-nilai spiritual di dalamnya.

Mengapa demikian? Perhatikan arti penting dari bilangan “tujuh” dalam bacaan kita, yakni: 7 imam, 7 sangkakala, 7 hari, dan 7 kali mengelilingi tembok Yerikho pada hari ke-7. Dalam tradisi keagamaan Yahudi bilangan “tujuh” ini memiliki makna: kesempurnaan, kelengkapan, dan kemenyelu-ruhan. Angka ini dipandang “suci” dan seringkali bersifat agamawi yang menunjuk pada simbol kesempurnaan Ilahi.

Sekanjutnya oerhatikan juga tentang sangkakala tanduk panjang. Terjemahan yang lebih baik adalah sangkakala Yubelium. Menarik unuk disimak bahwa Istilah Ibrani yobel biasanya hanya muncul bertalian dengan upacara keagamaan yakni tahun Yubelium (lih. Im.25:8 dst). Namun khusus diluar kondisi upacara keagamaan, istilah ini hanya mucul dalam bacaan kita dan Kel.19:13, di mana terdapat arti penting agamawi yang sama. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa kegiatan membawa sangkakala Yubelium (atau sangkakala tanduk panjang) tersebut bukan hanya murini soal startegi perang belaka, namun juga sangat berhubungan dengan kegiatan keagamaan. Hal ini juga diteguhkan dengan ikut diaraknya Tabut Perjanjian sebagai simbol kehadiran Allah yang berarti simbol keagamaan orang Israel.

Dengan demikian sudah dapat dipastikan, bahwa ketika mereka menyiapkan diri menggempur Yerikho, Orang Israel telah paham benar bahwa yang dilakukan mereka bukan saja untuk mengalahkan Kanaan, bukan saja hanya untuk memperoleh tanah tempat tinggal untuk didiami. Lebih daripada itu, mereka sangat memahami bahwa peperangan itu juga adalah suatu ekspresi spiritualitas keagamaan mereka; yang dilakukan bukan untuk manusia dan atau kepentingan perang saja tapi apa yang dilakukan adalah untuk TUHAN, Allah mereka dan kemasyuran namaNya. Alasan ini sudah cukup kuat untuk membuat Israel berperang dengan sungguh2 dan penuh percaya diri menang.


JEMAAT KEKASIH KRISTUS
Hidup adalah perjuangan. Karena hidup adalah perjuangan maka kita harus memenangkannya. Apakah saudara saat ini sedang memperjuaangkan sesuatu dalam hidup ini? Apakah saudara dan saya ingin memenangkannya? Mari renungkan beberapa prinsip perjuangan merobohkan tembok Yerikho dari bacaan kita untuk juga menjadi prinsip perjuangan hidup kita sebagai umat percaya:

1.       Apapun yang sedang kita alami dan perjuangankan dalam hidup ini, marilah membuat sudut pandang baru dalam perjuangan itu. Bahwa semua yang kita alami dan jalani saat ini datang-Nya karena pertolongan dari TUHAN. Dialah yang bekerja dalam diri dan hidup kita disetiap perjuangan yang kita lakoni. Hindari pemahaman sempit bahwa: “kalau bukan saya”; “untung ada saya”;” wah.. coba saya tidak lakukan ini atau itu” dll. Semua terjadi atas seizin TUHAN.

Kemenangan Israel atas Yerikho, sejak awal sudah diperingatkan TUHAN, Allah mereka sebagai suatu “hadiah” atau pemberian langsung dari TUHAN. Hal ini penting, agar umat TUHAN tidak menjadi congkak hati dan melupakan kebaikan dan kemurahan TUHAN, Allah mereka. Demikian juga dengan kita. Pahamilah bahwa Bapa kita dalam Yesus Kristus, selalu turut bekerja dengan anak-anakNya dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (bd. Rm.8:28). Tuhan tidak pernah berdiam dalam setiap perjuangan kita, maka harusnyalah segala pujian dan hormat dari setiap hasil perjuangan itu dipersembahkan bagi kemuliaan TUHAN, Allah Bapa kita dan bukan kepujian diri kita sendiri.

2.       Untuk bisa memenangkan setiap perjuangan hidup ini, kita harus melibatkan TUHAN di dalamnya sebagai Bapa yang mengasihi kita. Namun, Dia hanya mau terlibat untuk kita, apabila kita sendiri bersedia taat dalam kepatuhan kepadaNya. Banyak hal yang tidak logis dan realistis sering kita temui ketika memberi diri pada ketaatan untukNya. Semuanya menghadirkan banyak pertanyaan yang sulit dijawab. Belajar kepada Israel, kitapun diajak untuk kerjakan saja apa yang TUHAN mau dalam hidup ini tanpa perlu mempertanyakan hal-hal yang belum terjawab itu. Sebab ketaatan kepada TUHAN adalah kunci keberhasilan. Belajarlah taat, walau kadang sulit untuk dimengerti mengapa semua itu kita hadapi dalam perjuangan hidup. Tetaplah taat, walau kelihatannya kita sulit untuk mengerjakannya. Sebab kepastian akhir dalam hidup orang percaya hanyalah satu, yakni Rancangan Damai Sejahtera yang disiapkan TUHAN.

3.       Banyak orang terjebak pada suatu rutinitas duniawi dan memisahkan hal-hal yang sifatnya rohani dalam perjuangan hidup. Apa yang dilakukan Israel ketika merobohkan tembok Yerikho mereka pahami bukan hanya untuk kemenangan mereka, namun juga target agamawi ikut dalam perjuangan itu yakni supaya TUHAN, Allah mereka dimuliakan.

Seharusnya demikian juga dengan kita ketika melaksanakan perjuangan dalam kehidupan ini. Apa target utama kita? Kita bekerja dikantor, harusnya bukan saja untuk mendapat gaji; kita mengabdi dengan penuh upaya keras diperusahan, harusnya bukan saja supaya target tertentu dari perusahan tercapai sehingga bos senang; kita melayani suami dan membesarkan anak2, harusnya bukan saja hanya dipandang sebagai tugas seorang istri atau ibu rumah tangga dll.

Namun, melalui bacaan hari ini kita diingatkan sebagaimana Paulus katakan dalam 1Kor. 10:31 Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.  Dengan demikian, jika kita bekerja di kantor, mengabdi diperusahan dll; jika kita sebagai Istri atau ibu rumah tangga, sadarilah bahwa apa yang kita lakukan itu juga memiliki makna iman yakni kita harus melalukannya untuk TUHAN dan kemulianNya.

Karena itu, jemaat Tuhan..
Mari jalani perjuangan hidup kita. Selamat merobohkan tiap tembok Yerikho hidup ini bersama TUHAN dan selamat mengapai masa depan bersama Kasih dan Kemuliaan Juruselamat Hidup kita, Yesus Kristus Tuhan. Amin

No comments:

Post a Comment

Post a Comment