Tuesday, March 22, 2011

ROTI HIDUP

MATERI KHOTBAH IBADAH SEKTOR 23 MARET 2011
YOHANES 6:48-51

48Akulah roti hidup.  49Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati.  50Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. 51Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

PENDAHULUAN
Bacaan kita hari ini adalah lanjutan kisah sebelumnya tentang pengajaran Yesus mengenai diri-Nya. Orang banyak yang amat mengidolakan Musa dan menyebutnya sebagai utusan Allah bagi mereka, karena Musa memberi mereka makan roti dari Sorga atau Roti Manna, tetap tidak bisa menerima Yesus sebagai Roti Sorga yang sesungguhnya. Itulah sebabnya mereka menolak pengajaranNya itu dengan alasan bahwa mereka tahu siapa Dia dan siapa orang tuaNya (bd.42).

Bagian yang kita baca ini berisi penekanan Yesus terhadap siapa Dia sesungguhnya. Tema Ia adalah Roti hidup kembali diangkat dan dijelaskan Yesus.

TELAAH PERIKOP / TAFSIRAN
1.       Rangkaian Bacaan kita ini sering disebut sebagai “pidato Roti Hidup”. Karena seluruh pengajaran Yesus pada perikop ini terfokus pada pemaknaan Roti. Mengapa Roti dipilih Yesus menjadi salah satu tema pengajaran dalam rangka Ia menjelaskan tentang Siapa dirinya? Di Israel, roti memiliki makna dan arti yang sangat penting. Roti memainkan peran yang sangat sentral dalam setiap peribadahan mereka.
  1. Dalam perayaan Pentakosata misalnya, dua roti beragi akan dipersembahkan sebagai kurban bagi TUHAN bersama dengan korban bakaran lainnya. (bd. Im.23:17);
  2. Pada Kemah Suci setiap minggunya dan kemudian berlanjut di Bait Allah, orang Lewi sebagai pelayan di Bait Allah akan meletakkan dua belas roti tidak beragi sebagai lambang 12 suku Israel (Im 24:5);
  3. Di Bait Allah akan diletakkan juga Roti di hadapan TUHAN sebagai lambang kehadiran Allah bagi umatNya itu (bd. Kel.25:30).

Dengan kata lain, Yesus sengaja menggunakan analogi Roti untuk menjelaskan pengajaranNya itu karena memang orang Israel mengenal betul makna dari Roti yang berhubungan erat dengan korban keselamatan dan kehadiran TUHAN. Itu berarti jika Yesus menyebut diriNya sebagai Roti Hidup, hal ini menunjuk pada korban keselamatan dan juga jati diriNya sebagai penguasa alam semesta.

2.       Dalam sejarah iman orang Israel, ada satu roti yang mereka sebut sebagai “Roti Sorga”, yakni roti yang diturunkan TUHAN dari Sorga, yang biasa disebut dengan Roti “Manna” (bd. Kel.16:1-35). “Manna” itu kelihatannya seperti roti, “sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi” (Kel.16:14), “rasa-nya seperti rasa kue madu” (Kel.16:31), atau “seperti panganan yang digoreng” (Bil 11:8). Inilah Roti yang amat dikagumi oleh orang banyak tersebut saat mereka berbicara dengan Yesus.  Bagi mereka itulah cara ajaib yang TUHAN lakukan ketika memelihara mereka dan memberi hidup selama 40 tahun lamanya di gurun melalui makan roti yang turun dari Sorga itu.
       
Di sini Yesus meng-ibarat-kan dirinya bagaikan “manna” tadi,  makanan yang bersifat “spiritual and supernatural” dari Tuhan. Namun, sekali lagi Yesus membedakan Roti “manna” itu dengan Roti Hidup, yakni diriNya sendiri. Keunggulan Roti Sorgawi yakni Yesus sendiri dibanding dengan “manna” sangatlah nyata. Yang satu membawa hidup yang kekal, sementara roti “manna” tidak mampu melewati kematian. Hal ini di ditegaskan begitu kuat oleh Yesus pada ayat 49 dan 50 bacaan kita.

3.       Memang benar bahwa Roti “manna” itu pemberian Allah sehingga disebut roti dari Sorga. Tetapi Roti yang benar dari Sorga bukanlah Roti yang dimakan oleh nenek moyang mereka. Sebab roti yang dimakan oleh nenek moyang mereka itu hanya memberi rasa kenyang sesaat bagi mereka saja. Sedangkan Roti sesungguhnya yang benar dari sorga akan dinikmati bukan saja oleh nenek moyang mereka tapi oleh seluruh dunia. Selanjutnya roti yang dimaksud itu bukan hanya memberi rasa kenyang sesaat namun efeknya adalah memberi hidup kepada dunia.

Itulah sebabnya sambil menunjuk diriNya sendiri, Yesus berkata pada ayat 51: Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Memakan “dagingku” yang dimaksud Tuhan Yesus adalah menerima pengorbanan tubuNya yang disalib dan mati untuk dosa kita dan kemudian bangkit untuk menebus kita. Dengan kata lain, kehidupan kekal yang dimaksud Yesus hanya dapat diperoleh mereka apabila orang Israel itu menerima Yesus sebagai Juruselamatnya.

Tetapi hingga akhir perikop ini kita menemukan bahwa orang banyak itu tetap saja tidak mengerti.


APLIKASI DAN RELEVANSI
1.       Katakanlah, di rak buku kita tergeletak sebuah buku kumpulan sajak dari W.S. Rendra yang selama ini belum juga sempat kita baca.  Itu berarti bahwa selama itu pula isi buku tersebut tetap bersifat asing bagi Anda. Lalu suatu ketika kita pun membaca isi buku itu. Ternyata isinya benar-benar memukau. Sajak-sajak itu menyentuh dan bahkan merangsang berbagai perasaan. Dengan itu, isi buku tersebut. telah mengambil tempat dalam ingatan, pikiran dan hati Anda. Isi buku itu ternyata telah menjadi SANTAPAN bagi kita. Tadinya isi buku itu berada di luar sana, tetapi sekarang ia kini berada dalam diri kita. Mengapa? Karena kita telah mengecap dan menikmati isi dari tulisan itu. Sekarang syair sajak itu telah menjadi bagian diri kita melalui pikiran dan ingatan kita.

Demikian juga dengan Tuhan Yesus! Selama Ia hanya menjadi “tokoh” dalam sebuah buku (alkitab) maka Dia akan tetap berada diluar kita dan kitapun tidak akan pernah mengalami diriNya. Namun ketika Yesus masuk dalam kehidupan kita, maka Ia akan menjadi bagian dalam diri dan hidup kita dan kita ada di dalam diriNya. Itulah yang dimaksud dengan “memakan dagingKu” sebagaimana di ucapkan Yesus. Kita perlu untuk mengenal dan mengalami Yesus. Jangan biarkan pengenalan kita tentang Yesus hanya sampai pada pemahaman semu, namun yang lebih penting adalah mengenal Dia dengan lebih dalam lagi.

Para orang banyak itu sangat mengenal Yesus. Mereka tahu siapa Dia dan orang tuaNya. Namun ternyata mereka tidak mengenalNya lebih dalam lagi. Mereka masing mengagumi roti dkiriman dari sorga yang disebut “manna”, padahal di hadapan mereka saat itu ada Roti Sorga yang sesungguhnya, Roti Hidup yang memberi hidup Kekal. Sudahkan Yesus menjadi bagian hidup kita? Ini pertanyaan penting yang harus kita  renungkan. Atau barangkali kita hanya tahu tentang Yesus namun belum mengenalnya dan mengalami tentang Yesus dalam hidup beriman kita? Jika benar demikian itu sama dengan kita hanya membaca judul suatu buku namun tidak pernah membaca dan menikmati buku itu.

2.       Hari ini kita diingatkan untuk mulai saat ini berusaha mengenal Tuhan kita lebih dalam dan lebih sungguh lagi. Hanya dengan pengenalan yang benar tentang Yesuslah akan membuat kita mengerti dan memahami semua kehendaknya.

Bagaimana cara mengenalNya? Sebenarnya tidaklah sulit! Kita dapat mengenal Tuhan kita melalui kebenaran FirmanNya. Karena itu mengetahui Fiman Tuhan adalah hal yang patut dilakukan orang percaya demi dapat mengenal TUHAN lebih baik lagi. Itu berarti kita harus lebih banyak membaca Alkitab, merenungkan dan melakukannya supaya kita dapat mengenalNya dengan baik.

3.       Siapakah Yesus Kristus bagi kita? Apakah Ia benar kita terima sebagai Roti Hidup alias makanan rohani kita? Kata pepatah bijak: “makanan yang kita makan menunjuk siapa kita”. Pepatah ini ingin mengatakan tentang disiplin memelihara kesehatan, mengatur keuangan dalam hal makanan, dan juga kemampuan mengendalikan diri dari godaan makanan. Namun jika pepatah ini disejajarkan dengan Yesus sebagai Roti Hidup itu berarti bahwa kehidupan kita ditentukan dari apa yang kita makan.

Jika Roti hidup adalah makanan kita (Yesus telah menjadi bagian hidup kita) maka seharusnya dalam setiap hidup kita tergambar pola dan kehidupan yang benar sebagaimana Yesus adalah kebenaran itu. Jika pola kehidupan kita yakni pikiran, perkataan dan perbuatan kita tidak selaras dengan kehendak Kristus, maka sesungguhnya kita BELUM menjadikan Dia sebagai Roti Hidup kita. Karena itu marilah menerima Yesus sebagai Roti Hidup. Jalanilah kehidupan ini yang berpadanan dengan MAKANAN ROHANI kita itu supaya benar adanya bahwa kita dapat beroleh hidup kekal. Amin.

1 comment:

  1. Syalom............
    terima kasih Pak atas materi khotbanya kiranya Tuhan Yesus selalu memberkati.
    materi dari Bapak sangat membantu saya dalam menyusun khotba pelayanan saya sebagai Diaken.
    terus berkarya Pak. Tuhan Yesus Memberkati.
    Syalom.................

    ReplyDelete