Thursday, November 11, 2010

MEMPERSIAPKAH KHOTBAH SECARA PRAKTIS[1]

 

Upaya Memperlengkapi Diri Menjadi Pemberita Firman Demi

Kemuliaan Allah

Oleh: Pdt. I Nyoman Djepun, S.Th.[2]

A     P e n d a h u l u a n

       Ketika jemaat datang beribadah dalam setiap kesempatan, mereka tidak hanya datang untuk berdoa atau bernyanyi, tapi juga datang dengan berbagai pertanyaan, pergumulan, keletihan jiwa dan kelemahan iman. Sehingga kehadiran umat dalam ibadah, juga bertujuan untuk mendapatkan beberapa jawaban atas berbagai pertanyaan imannya, mencari jalan keluar di tengah gumulan imannya, mendapatkan kesegara jiwa dan kekuatan untuk imannya. Firman Allah, itulah yang mereka butuhkan. Sebab bukankah Firman itu adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalanku (Mzm.119:105)?
       Itulah sebabnya renungan Firman Allah yang dibawakan dalam bentuk khotbah sangat penting dalam ibadah jemaat. Dengan kemampuan untuk menguraikan Firman Allah secara sistematis, tepat, padat dan jelas maka secara tidak langsung kita telah menjadi saluran berkat Allah bagi kehidupan para pendengar Firman.

B     Beberap Prinsip Pemberitaan Firman Melalui Khotbah

       Beberapa prinsip ini akan menuntun pengkhotbah untuk memahami tanggung-jawab pemberitaan Firman Allah, yang diberikan TUHAN kepadanya. Beberapa prinsip dimaksud adalah sebagai berikut:


1.   Khotbah adalah uraian Firman Allah

     Mengerti bahwa khotbah adalah Firman Allah, maka segala sesuatu yang disampaikan haruslah menyangkut penghiburan, penguatan, didikan, perintah bahkan penghukuman. Dengan demikian khotbah yang baik tidak hanya mengandung cerita2 Firman Tuhan yang menyenangkan hati jemaat, tetapi juga kadang pula mengandung uraian tegas dan teguran keras bagi umat; memberikan pengharapan dan menguatkan iman. Jika demikian semakin dengat FirmanNya, jemaat akan semakin dekat dengan TUHAN, Allah dan mengenalNya lebih dekat.

2.   Firman Allah bagaikan pedang bermata dua

Jika Firman Allah itu bagaikan pedang bermata dua (bd. Ibrani 4:12), maka setiap Firman Tuhan haruslah mampu mengoreksi hidup jemaat dan pengkhotbahnya. Sehingga ketika Firman diberitakan itu tidak hanya ditujukan kepada jemaat, namun juga kepada si pemberita Firman. Tanpa itu si pemberita gagal menjadi pemberita, karena merasa lebih baik dari yang lain dsb. Perubahan sikap ketika Firman Tuhan diberitakan harus lebih dulu nampak dalam diri si pemberita, sebab dia yang lebih dahulu mempersiapkan Firman itu? Sebab yang lebih ideal adalah menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar, apalagi pemberita saja.

 

3.   Firman Allah itu kudus

     Jika Firman Allah adalah kudus, maka selayaknya-lah dipergunakan pada tempatnya untuk kemuliaan Allah dan pelayanan bagi umatNya dan bukan demi kepentingan terselubung lainnya. Artinya seorang pengkhotbah dilarang keras dan tegas untuk memakai ayat-ayat Alkitab untuk menyerang orang lain, dan mengubar kemarahan demi suatu kepentingan, sementara perikop bacaan tidak pernah menyinggung hal-hal yang ia ucapkan.

     Demikian juga pengkhotbah dilarang keras, dengan alasan apapun (termasuk “suara Roh Kudus” atau “pekerjaan Roh Kudus”) memakai ayat2 alkitab untuk membenarkan diri di hadapan orang lain atau jemaatNya. Gunakanlah Firman Allah sesuai tujuan-tujuan yang mulia dan benar, sehingga nama TUHAN dimuliakan dalam khotbah!

 

4.   Jemaat adalah pendengar Firman melalui khotbah

Karena yang mendengar Firman adalah jemaat, maka pengkhotbah harus mengetahui secara baik konteks situasi dan kondisi di mana umat melakukan kegiatan hidupnya. Sebab khotbah jika tidak “mendarat” dalam kontkes kebutuhan umat akan memberi dampak tidak berguna dan sia-sia. Karena itu sampaikanlah khotbah retorika dengan menggunakan bahasa yang komunikatif dan mudah dimengerti oleh umat.

 

C     Langkah-langkah Mempersiapkan Khotbah

       Untuk dapat menyusun khotbah secara baik dan benar, pengkhotbah perlu melakukan langkah-langkah dasar sebagai berikut:


1.   Tentukanlah teks bacaan

Penentuan teks bacaan merupakan hal yang prinsip di awal persiapan khotbah. Teks yang dipilih harus sesuai dengan nuansa ibadah yang akan dilakukan. Karena itu pengkhotbah harus mengetahui jenis ibadah apa yang akan ia layani. Nuansa ibadah syukur pasti berbeda dengan ibadah penghiburan atau pemakaman jenazah. Selain itu pekhotbah perlu memperhatikan posisi tematis kehidupan pelayanan gereja berdasarkan Tahun Gereja. Sebab khotbah berdasarkan teks tentang kelahiran Yesus tidak cocok disampaikan jika jemaat sedang berada pada masa-masa minggu sengsara.

Karena itu, untuk mempermudah pemilihan teks bacaan, maka gunakanlah buku2 yang memuat agenda alkitab atau sejenisnya yang berhubungan dengan tahun gereja. Langkah yang lebih mudah lagi adalah dengan mengikuti pentunjuk teks bacaan berdasarkan Sabda Bina Umat yang diterbitkan GPIB.

 

2.   Berdoalah sebelum membacanya

Doa itu penting sebelum membaca Firman Allah. Sebab dalam doa kita meminta Hikmat, kekuatan kepada Allah dan melakukan penyerahan diri untuk membiarkan Allah berbicara dalam FirmanNya yang kita baca, sehingga diberikan kemampuan untuk mengerti dan memahami.

Berdoa sebelum membaca Alkitab, juga mengandung makna bahwa tanpa bimbingan Tuhan melalui karya Roh KudusNya, si pembaca takkan mampu menyelami kedalam dan kekayaan Firman Tuhan itu. Karena itu berdoalah selalu dan mintalah petunjuk kepada TUHAN, Allah kita sebelum membaca FirmanNya.

 

3.   Bacalah Teks Alkitab, untuk menemukan pemahaman

Bacalah seperti orang membaca!! Artinya, membaca alkitab tidak sambil lalu, apalagi sambil melakukan berbagai aktivitas lain. Bacalah dengan seksama untuk mencari suatu pengertian yang benar. Untuk mendapat pengertian yang benar, bacalah teks tersebut berulang-ulang tanpa jenuh. Jika pembacaan teks Alkitab tersebut hanya dilakukan 1 - 2 kali, maka pengertian dan pemahaman yang benar sulit ditemukan, terlebih jika teks bacaan tersebut baru pertama kali kita baca dan temukan.

Untuk mempermudah menemukan pemahaman ketika membaca teks Alkitab, maka buatlah suatu intisari (pokok pikiran) dari satu atau beberapa ayat yang berhubungan. Setelah itu kumpulkan pokok pikiran tersebut dan buatlah satu atau beberapa kalimat dari kumpulan pokok pikiran dalam ayat2 yang ada. Jika hal itu dilakukan maka tanpa sadar kita sudah menemukan maksud dari tulisan tersebut. Secara tidak langsung kita sedang melakukan eksegese kecil-kecilan.

  

4.   Lakukan eksegese terhadap teks itu

Eksegese berasal dari bahasa Yunani dari dua suku kata ek= keluar; egein= menguraikan, menjelaskan. Sehingga eksegese adalah upaya untuk menarik keluar berbagai hal yang ada dalam aklitab untuk dijelaskan. Atau secara sederhana eksegese adalah upaya untuk membiarkan ide alkitab itu keluar menjumpai kita atau membiarkan alkitab berbicara. Lawan dari eksegese adalah eisegese, yakni upaya memasukan ide kedalam teks. Sehingga bukan alkitab yang berbicara melainkan pikiran kita.

Beberapa hal sehubungan dengan eksegese adalah memperhatikan kedudukan teks dalam perikop, memperhatikan kedudukan perikop dalam pasal dan kedudukan pasal dalam kitab. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan secara langsung.

  

5.   Buatlah garis besar (kerangka khotbah) Khotbah

Untuk membuat naskah khotbah lengkap diperlukan kerangka khotbah. Kerangka khotbah dimaksud biasanya terdiri dari 3 (tiga) bagian besar, yakni: Pembukaan, mengantar jemaat untuk mengenal teks, tema dan pengenalan naskah sehingga mereka disiapkan untuk memasuki galian khotbah; Isi Khotbah, merupakan hasil tafisran atau eksegese teks, dan aplikasi atau relevansi teks dan Penutup, berisikan ajakan dan simpulan khotbah.

 

6.   Susunlah naskah khotbah lengkap

Naskah khotbah lengkap disusun berdasarkan kerangka khotbah. Dengan demikian uraian khotbah lengkap mengandung pokok-pokok pikiran yang ada dalam kerangka khotbah. Belajarlah untuk disiplin dan ketat dalam penulisan naskah khotbah lengkap, agar ada kontrol pada saat penyampaian khotbah (khusus bagi pemula) sehingga khotbah tetap fokus pada tujuan khotbah.

Karena itu untuk membuat naskah khotbah perlu memikirkan pula tujuan khotbah. Artinya setelah khotbah disampaikan, apa yang diharapkan dari jemaat untuk mereka lakukan, rasakan dan artikan. Berdasarkan tujuan khotbah itulah kerangka khotbah itu disusun dan selanjutnya menjadi naskah khotbah lengkap.

 

D     Meramu kerangka khotbah menjadi naskah lengkap

       Kerangka khotbah dikembangkan menjadi khotbah lengkap. Untuk itu cara penulisan khotbah lengkap yang berasal dari kerangka khotbah harus meniru cara penulisan surat kabar. Koran atau surat kabar menjadi bacaan yang banyak diminati karena memuat jawaban dari berbagai pertanyaan yang sering muncul, yakni: Apa, mengapa, bagaimana, siapa, kapan, di mana, ke mana dll. Karena itu isi khotbah minimal memuat beberapa pertanyaan tersebut. Skemanya sebagai berikut:

 

Hari/tanggal     :
Tempat            :
Bacaan             :
Tujuan Khbh   :

TEMA


Pengantar



ISI Khotbah
Apa :
1.
2.
Mengapa:
1.
2.
Bagaimana:
1.
2.


Penutup Khotbah



 
        





















E     Penutup

       Hal-hal yang diungkapkan di atas akan sulit dimengerti jika tidak dicoba untuk diparaktekkan saat ini. Karena itu perlu ada upaya untuk mengejahwantakan lewat latihan praktis membuat khotbah. Namun di atas segala sesuatu, apapun yang mampu kita lakukan tidak lepas dari pertolongan Tuhan. Pahamilah kita hanya alat ditangan KudusNya untuk pelayanan ini. Selamat mencoba semoga berhasil. Tuhan memberkati.


Dilanjutkan dengan semi loka
Menyusun khotbah...






 



[1] Bahan Pengantar diskusi dalam acara Pembinaan Pengurus BPK, Komisi, Majelis Jemaat dan anggota jemaat GPIB “Pelita Kasih” Sangatta. Sabtu, 20 November 2004 di Gedung Gereja GPIB “Pelita Kasih” Sangatta. (Bahan ini tidak untuk dipublikasikan, khusus kalangan sendiri)

[2] Pendeta / Ketua Majelis Jemaat GPIB “Getsemani” Balikpapan

No comments:

Post a Comment