Sunday, August 17, 2014

BAHAN PERSIAPAN IBADAH PKP SELASA 19 AGUSTUS 2014


1 PETRUS 2:11-12

PENGANTAR
Surat Petrus Yang Pertama ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil. Mereka disebut "umat pilihan Allah". Maksud utama surat ini ialah untuk menguatkan iman para pembacanya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus mengingatkan para pembacanya akan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka. Sebab, Yesus Kristus sudah mati, hidup kembali dan berjanji akan datang lagi.

Para penerima surat 1 Petrus ini, hidup dalam masa-masa sukar. Mereka ada di zaman sulit. Saat dimana Kekristenan alami penganiayaan. Dibenci oleh Nero, sang penguasa. Tentu saja, bagi yang memiliki mentalitas cari aman, pilihan mengikuti jejak Yesus, bukanlah keputusan cerdas. Mereka akan memilih menolak salib, sebab itu derita. Terhadap yang setia beriman, namun minim pemahaman, Petrus bukan saja mencerdaskan, namun juga menguatkan melalui suratnya ini.

TAFSIRAN (uraian teks)
Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan 1:1-2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13-3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Himbauan berkelakuan baik di tengah-tengah masyarakat non-Yahudi dan ditengah penindasan para penguasa yang lalim diserukan oleh Petrus melalui bacaan ini ketika umat menghadapi penderitaan. Khusus ayat perikop bacaan kita, ada beberapa pokok penting yang ditekankan oleh Petrus, yakni:

1.       Hidup dalam kebenaran
Perhatikan ayat ayat 11bacaan kita. Petrus menganjurkan agar umat Tuhan tetap mempraktekkan “cara hidup yang baik”. Anjuran yang sama berulang kali diketengahkan dalam ayat-ayat berikutnya (2:15; 2:20; 3:6, 11, 13). Dengan melakukan ini, mereka menjadi kudus … sama seperti Dia yang kudus” (1:15). Sekaligus mereka menyatakan bahwa mereka memang berada di dunia ini, tetapi “bukan dari dunia” ini (Yoh 17:115-16). Dengan memiliki cara hidup yang baik, mereka mencerminkan karakter Allah. Apa tujuannya? Supaya Tuhan tetap dimuliakan, dan kelak nanti mereka yang mencerca orang percaya akan sadar dan turut memuliakan Allah juga.

Orang percaya diajak untuk berani tampil beda di tengah berbagai keadaan dan godaan dunia. Hal ini penting untuk menunjukkan kepada banyak orang tentang siapakah kita sesungguhnya. Bahwa orang percaya adalah pengikut Kristus, maka kita wajib menunjukkan kepada dunia tetang bagaimanakah hidup seorang pengikut Kristus itu. Berani tampil beda berarti berani untuk melawan arus godaan dunia dan kedagingan untuk berlaku hidup dalam kebenaran supaya duniamelihat karakter anak Allah dalam diri kita.

2.       Hidup menjadi Teladan
Pada ayat 12 bacaan kita, Petrus memberikan alasan menarik mengapa harus mengembangkan cara hidup yang baik di tengah2 dunia ini termasuk mereka yang tidak percaya? Tujuannya bukan saja untuk menunjukkan identitas sebagai orang percaya di tempat rantau (ay.11); tetapi juga untuk memberikan jawaban atas tuduhan tidak benar yang difitnahkan oleh orang yang tidak percaya. Jika hidup di jaga dengan perbuatan baik dan benar, maka tidak seorangpun yang dapat menemukan kekurangan kita dan membenarkan fitnahan mereka.

Di sisi lain, Petrus juga menyebutkan bahwa perbuatan baik dan benar itu bukan saja mematahkan tiap fitnahan dan tuduhan jahat orang lain, namun lebih dari pada itu akan menjadi teladan bagi orang lain. Kebenaran yang kita tunjukkan kepada orang lain, kelak justru akan menjadi alat kesaksian, sehingga mereka justru menjadi percaya dan memuliakan nama Tuhan.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan uraian Firman Tuhan ini, maka ada beberapa hal penting yang dapat kita relevansikan dalam kehidupan beriman kita,yakni:
1.       Budaya ikut harus dewasa ini sudah menjadi bagian hidup banyak orang. Jika ingin diterima dalam komunitas atau kelompok tertentu maka apapun harus mau dilkukan. Ikuti arusnya maka pasti akan diterima. Efek dari kondisi ini adalah banyak orang melakukan berbagai pelanggaran atau sesuatu yang bertentangan dengan isi hati hanya demi dapat diterima dan diakui oleh orang lain atau komunitas tertentu. Kondisi ini juga banyak dialami oleh orang percaya. Bahwa supaya tidak terlihat aneh atau disebut terlalu rohani maka kehidupan duniawipun rela ditekuni.

Di sisi yang lain, banyak orang percaya akhirnya memuutuskan untuk melakukan berbagai hal yang dilarang dan mengakibatkan dosa, demi untuk tidak terlihat beda atau aneh. Berpikir karena disekeliling sering memanipulasi anggaran di tempat kerja, “maka sayapun harusnya bisa, tokh tak pernah ketahuan?”. Sikap ini adalah sikap yang keliru. Petrus mengajak kita untuk berni melawn arus danbersedia tampil beda demi kebenaran dan kemuliaan Allah. Memang benar bahwa kita mungkin akan dihindari orang dan kehilangan teman atau persahabatan. Namun demi kebenaran, kita harus mampu tuntukan gaya hidup berbeda dari orang percaya.

2.       Orang percaya jaman sekarang hidup bagaikan di etalase. Apapun yang dilakukan akan dinilai dan menjadi sorotan. Kenyataannya sekarang, di dunia komunikasi yang tiada batas ini justru kekristenn kita semakin diuji. Banyak orang pasti tau beberpa tokoh Kristen terlibat dala kejahatan dan terekspos di layar televisi. Bukankah itu menjadi suatu sandungan. Kita dipanggil untuk tampil supaya menjadi kesaksian tetang Kristus dan bukan seballiknya mempermaukan Tuhan.

3.       Tamil beda juga justru bisa dijadikan alat untuk memenangkan jiwa. Dengan perbuatan benar yang dilakukan, dengan kemurahan hati yang disaksikan orang yag tidak percaya bisa saja menerima Tuhan Yesus karena ia telah berjumpa dengan Kristus melalui perjumpaan dengankita yang sangat baik dalam hal tutur kata, pola tingkah laku dan eksistensi dirikita.


Karena itu, mari bersedia tampil, beda...

Thursday, August 7, 2014

BAHAN PERSIAPAN IBADAH PKB 15 AGUSTUS 2014


BAHAN PERSIAPAN IBADAH PKB 15 AGUSTUS 2014
MAZMUR 34:16-23

PENGANTAR
Mazmur 34 ini merupakan nyanyian pujian Raja Daud kepada Tuhan sebagai syukur kepada Allah atas luputnya ia dari kesulitan di hadapan Akhis, raja kota Gat. Pada saat itu Daud berpura-pura menjadi gila sehingga tidak mengalami kejahatan di Akhis. Daud menjadi seorang pelarian walaupun baru saja di lantik menjadi raja. Ia dikejar Saul dan pengikutnya. Ancaman bahaya mengintai Daud, namun Tuhan selalu meolong dan menjaganya.

Kenyataan inilah, yakni terluputnya Daud dari kesulitan di Gat membuatnya menggubah Mazmur ini sebagai suatu ungkapan iman tentang karya Tuhan dalam hidupnya.

TELAAH PERIKOP
Ada beberapa pokok pengajaran iman yang ditulis oleh Daud dalam Mazmur 34:16-23 ini yang bukan saja berisi pujian kepada Allah tetapi pengakuan tentang siapa Allah dan siapa manusia di hadapan kuasa Allah yang dasyat itu. Pokok-pokok pikiran dimaksud adalah sbb:
1.       Keberpihakan TUHAN kepada orang benar.
Pemazur menegaskan bahwa TUHAN, Allah Israel selalu berpihak kepada orang yang benar. Hal ini nampak dalam ayat 16 bacaan kita. Menggunakan istilah mata dan telinga Tuhan yang tertuju melihat dan mendengar orang benar, memberi arti khusus bahwa perhatian Tuhan fokus pada keadaan dan kondisi yang dialami orang percaya.

Teriakan minta tolong di dengar oleh TUHAN, bahkan Iapun tahu tentang derita hidup yang dialami orang percaya. Yang menarik dari Mazmur ini adalah bahwa TUHAN bukan hanya melihat dan mendengar yang dialami dan didoakan orang percaya, tetapi juga menurut pemazmur dalam ayat 18, TUHAN segera bereaksi dan bertindak melepaskan orang benar dari segala kesesakannya.

2.       Penghukuman TUHAN kepada orang fasik
Berbeda pada orang benar, reaksi TUHAN di hadapan orang fasik sangatlah tegas. Pemazmur menyebut dalam ayat 16a bahwa TUHAN, Allah menentang orang yang berbuat jahat. Bukan hanya itu saja, bahwa siapapun yang membeci orang benar, terkategori orang fasik dan mereka pasti mendapatkan hukuman (bd.ay.22b).

Pemazmur dengan yakin menyebutkan bahwa kemalangan akan ditimpakan TUHAN kepda orang fasik (ay.22a), dan bahkan oleh karena dasyatnya kemalangan itu, orang fasik akan mengalami kematian. Sebab kemalangan tersebut adalah kemlangan  yang mematikan.

3.       Orang benar dan kemalangan hidup
Ayat 20 bacaan kita menyebutkan: “Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.” Hal ini memberikan suatu pengajaran penting bagi orang percaya bahwa menjadi orang benar bukan berarti bebas dari kemalangan hidup. Pemazmur justru mengatakan bahwa kemalangan hidup orang benar, sangatlah banyak. Apa yang disampaikan Daud ini sekaligus merupakan tantangn iman bagi orang percaya bahwa bukan hanya kebahagiaan dan sukacita hidup yang akan dialami orang percaya, namun rupanya akan ada begitu banyak kemalangan yang dialami.

Tetapi menurut pemazmur, justru lewat kemalangan hidup itulah irang benar akan elihat keberpihakan Allah tersbut. Bahwa TUHAN memang tidak pernah menjanjikan hidup ini penuh dengan kebahagiaan hidup saya karena akan ada kemalangan dan penderitaan. Namun, Tuhan tidak akan tinggal diam. Ia akan segera bergerak untuk melepaskan orang benar dari kemalangan hidup itu.


RELEVANSI DAN APLIKASI
Silakan kembangkan dan hubungankan TELAAH PERIKOP dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu aplikai dan relevansi atau penerapan khotbah.

Selamat melayani.

BAHAN PERSIAPAN IBADAH GERAKAN PEMUDA (sesuai SBP)


BAHAN PERSIAPAN IBADAH GERAKAN PEMUDA
GPIB JEMAAT BETHANIA MAKASSAR
10 DAN 11 AGUSTUS 2014



I KORINTUS 9:26-27 (10 AGUSTUS 2014)

PENGANTAR
Surat ini ditujukan oleh Paulus kepada jemaat-jemaat yang tersebar di kota Korintus. Kota Korintus dalam perjanjian baru adalah sebuah kota pelabuhan yang berada di Semenanjung Makedonia. Paulus mengunjungi Korintus pada perjalanan misi ke 2 dengan melewati medan perjalanan yang sangat berat baik melalui darat dan laut maklum waktu itu belum ada kendaraan apalagi pesawat terbang, WAKTU ITU  alat transportasi yang biasa digunakan adalah jalan kaki. 

Tapi luar biasa seorang Paulus yang telah menjadi hamba Tuhan tidak pernah mundur apapun resikonya demi memberitakan Injil. Biasanya ketika ia berpindah pada jemaat yang lain maka ia selalu menulis surat kepada jemaat jemaat yang pernah ia kunjungi. Surat adalah sarana komunikasi yang tepat waktu itu. Beda sekarang yang sangat mudah dijangkau dengan HP.

Dalam Alkitab tercatat 2 kali ia mengirim surat pada jemaat Korintus.  Kalau kita mencermati surat yang pertama dan yang kedua, telah terjadi masalah yang sangat serius dalam dinamika jemaat karena banyaknya penyusup yang menyamar sebagai pelayan untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri. Paulus banyak menulis dengan tegas untuk menjelaskan siapa dia, apa motivasi pelayanannya dan apa kerinduannya kepada jemaat  melalui surat-suratnya.

TELAAH PERIKOP (I Kor. 9:26-27)
Beberapa orang di Korintus mempertanyakan kerasulan Paulus (ay.2) dan meragukan segala bentuk pengajarannya. Di sisi lain juga timbul persoalan soal fasilitas dalam pelayanan. Jemaat Korintus banyak mengfasilitasi kebutuhan pelayanan dari tenaga pelayan terutama para rasul dan pemberita injil. Namun menariknya adalah terdapat perlakukan tidak adil yang diterima oleh Paulus dan Barnabas mengenai fasilitas pelayanan itu (ay.6).

Fasilitas pelayanan apakah yang dimaksud oleh Paulus? Jika memperhatikan ayat 6 bacaan perikop ini maka kita mendapat kesan bahwa HAK RASUL yang dimaksud oleh Paulus adalah dibebaskan dari pekerjaan tangan karena tanggungjawab yang harus fokus dalam pelayanan. Adalah hak para rasul untuk mengharapkan mendapat imbalan duniawi (makanan, minuman, hak untuk menikah, dll) setelah melaksanakan tanggungjawab pelayanan (ay.5, 8-12). Mengapa hal ini ditegaskan oleh Paulus? Sebab adalah hak Paulus sebagai rasul untuk hidup dari pemberitaan injil setelah ia memberitakan injil (ay.14). Hal ini secara tidak langsung mengkritik Korintus yang mengabaikan pembiayaan kebutuhan hidup para pelayan, termasuk pada rasul Paulus, yang telah berjerih payah melayani.

Yang menarik dari uraian tentang hak Rasuli ini, kita menemukan ayat 15 yang menjelaskan soal integritas pelayan Tuhan yang ditunjukkan oleh Paulus. Hak Rasul itu TIDAK PERNAH DIPERGUNAKANNYA. Hal ini memberi indikasi bahwa kemungkinan besar bahwa Paulus tidak menikah. Dan untuk kelangsungan hidupnya, ia tidak meminta hal dari jemaat, melainkan berusaha sendiri sebagai pembuat tenda untuk menghidupi keluarganya. 

Mengapa Paulus tidak sibuk mengejar-ngejar hak nya itu? Hal ini terjawab dalam ayat 26-27 bacaan kita. Rupasnya fokus pelayanan Paulus bukanlah fasilitas pelayanan dan hak yang harus ia peroleh dari hasil melayani. Fokus pelayanan Paulus adalah pelayanan itu sendiri. Ia mengandaikan bahwa melayani dalam pelayanan itu bagaikan melakukan pertandingan dalam gelanggang pertandingan dengan target menjadi juara atau menang mencapai garis akhir (ay.24). Dengan kata lain, fokus pelayanan Paulus adalah mengakhiri pelayanan hingga tuntas dan selesai.

Bagaimanakah cara Paulus untuk mengakhiri dengan baik dan memenangkan pertandingan dalam gelangan pelayanan? Apakah strategi Paulus agar tetap fokus dalam pelayanan? Ada beberapa pokok penting yang disampakan Paulus:
1.       Menguasai diri dalam segala hal (ay.25)
Menguasai diri yang dimaksud Paulus adalah dalam segala hal. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pelayan perlu mengasah kemampuan, kekuatan dan potensi diri kearah peningkatan optimal sehingga dalam segala hal dan segala kebutuhan dapat menyelesaikan dengan baik dan benar. Adalah penting unuk menguasai dir dalam segala hal. Sebab bukankah banyak orang mengalami kejatuhan justru karena penguasaan diri yang kurang baik? Entah itu menyakut emosi dan mentalitas diri.

2.       Tujuan yang benar (ay.26)
Maksud Paulus dari ayat 26 ini sangat jelas. Jika tujuan tidak dimiliki saat melakukan sesuatu maka akan sia-sia. Seorang petanding memiliki tujuan untuk beroleh makota atau piala. Bagaimana dengan kekristenan itu? Paulus menyebut dalam Filipi 3:14 bahwa tujuannya melayani adalah untuk menjawab panggilan Tuhan Yesus untuk memperoleh hadiah panggilan sorgawi. Tujuan yang tepat akan memberikan motivasi yang tepat juga. Inilah yang dinaksud oleh Paulus.

3.       Menyiapkan dengan baik agar tidak ditolak (ay.27)
Melatih tubuhku yang dimaksudkan, tentu saja, adalah disiplin diri. Berjalan dengan Allah menuntut adanya pengorbanan diri, pengorbanan hal-hal yang tidak harus jahat, tetapi yang menghalangi pengabdian jiwa sepenuhnya kepada Allah - seperti berbagai kesenangan dan keuntungan duniawi. Pada zaman yang mengutamakan kemewahan, seperti saat ini, kata-kata Paulus ini memiliki makna nyata bagi hamba Kristus yang sungguh-sungguh. Paulus memanggil banyak orang untuk ikut berlomba dalam kehidupan Kristen melalui Injil. Dia tidak ingin ditolak. Kata ini tidak berarti kehilangan keselamatan. Artinya secara harfiah ialah tidak disenangi. Jelas sang rasul memperhatikan agar ia tidak ditolak oleh wasit pertandingan untuk memperoleh hadiahnya. Dia tidak takut dihalangi sang bentara untuk ikut di dalam lomba. Semua ikut berlari, tetapi tidak semua menerima hadiah; dan Paulus ingin memperoleh hadiah itu.

RELEVANSI DAN APLIKASI (diksusikan)

Tuesday, July 1, 2014

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 02 JULI 2014 AMSAL 1:15-19





AMSAL 1:15-19

PENDAHULUAN
Kitab Amsal dalam bahasa Ibrani adalah “Mishele Shelomo” yang berarti Amsal Salomo (1:1). Amsal memperoleh nama dari isinya, yakni pepatah atau peribahasa yang menyampaikan kebenaran dengan cara perbandingan. Kata ‘amsal’ (Ibrani : masyal) artinya melambangkan, menyerupai, misal, perumpamaan, dan juga dapat berarti paralel, serupa atau perbandingan. Dalam kitab lain masyal mungkin berarti sindiran (Ul . 28 :37, Yeh. 14 :8), atau nyayian ejekan (Yes. 14 :4) dimana orang-orang yang dimaksudkan jelas menjadi contoh pengajaran.

Kitab Amsal digolongkan ke dalam kitab hikmat. Amsal adalah  pengajaran moral dan spiritual tentang bagaimana sikap hidup setiap hari. Amsal merupakan ucapan hikmat dari guru-guru yang mengetahui hukum Allah dan ingin menerapkan prinsip-prinsipnya pada segala aspek kehidupan. Inti pengajaran dari kitab “Amsal adalah hiduplah takut akan Tuhan”. Kehidupan yang tidak takut akan Tuhan menuju kepada kebebalan hidup tanpa kendali. Jadi tujuan Amsal adalah memberi petunjuk bagaimana melakoni hidup yang sukses dengan memberikan ilustrasi baik secara positif maupun negatif. 

TELAAH PERIKOP
Penulis kitab Amsal ini mengindentifikasi dirinya sebagai orang tua yang sedang memberikan wejangan hikmat kepada anaknya. Hal ini terlihat pada ayat 8, 10 dan 15 ketika ia menyapa pembaca dengan sebutan: “hai anakku”. Untuk memahami isi dari ayat 15-19, maka sangat perlu bagi kita untuk membaca dan memaknai keseluruhan perikop, yakni ayat 8-19 sebagai kesatuan yang utuh.

Ada beberapa pengajaran hikmat yang disampaikan Salomo kepada pembaca kitabnya dalam keseluruhan perikop ini, yakni:
1.       Salomo membagi dua jenis pengajar atau dua jenis sumber didikan. Sumber didikan yang pertama adalah orang tua atau ayah dan ibu (ay.8). sumber didikan yang kedua adalah “orang berdosa” (ay.10).


2.       Dengan tegas Salomo mengarahkan bahwa reaksi yang harus diberikan ketika menerima didikan orang tua adalah mendengarkan dan  tidak menyia-nyiakan tiap pengajaran mereka, sebab kebaikan (karangan bunga) dan keindahan hidup (kalung bagi lehermu) akan menjadi milik mereka yang patuh dan taat pada didikan orang tua.

Bagaimana reaksi yang harus diberikan terhadap sumber didikan yang berasal dari orang jahat atau orang berdoa? Dengan tegas, Salomo pada ayat 10 memerintahkan untuk tidak boleh menurut dan mematuhi setiap didikan dan godaan dari sumber kejahatan dan sumber dosa.

3.       Pada ayat 11-14 kita menemukan alasan mengapa perlu menolak didikan dari orang berdosa. Salomo memberikan beberapa contoh didikan lewat bujukan jahat dari orang berdosa yang harus di tolak:
-      Mereka mengajar membunuh orang tak bersalah dengan tanpa belas kasihan sedikitpun (ay.11-12).
-      Menjadi kayak sangatlah mudah. Cukup dengan merampok dan merampas harta benda orang lain (ay.13). Menentukan korban dan target rampasanpun cukup lewat buang undi, maka pundi2 kekayaan mereka akan menjadi milik kita (ay.14).

4.       Dengan alasan didikan dan bujukan jahat itulah, Salomo meminta agar jangan mengikuti bujuk rayu tersebut. Dengan tegas Amsal memerintahkan agar jalan jahat itu jangan dicontohi. Istilah “tahanlah kakimu dari pada jalan mereka” (ay.15) menunjuk soal meneladani dan atau mencontohi gaya hidup dan jalan hidup. Dengan kata lain, penulis Amsal ini menekankan bahwa mengikuti jalan hidup orang berdosa sama artinya dengan mematuhi dan mendengarkan didikan dan ajaran mereka.

5.       Terdapat hal menarik yang disampaikan oleh Salomo pada ayat 17-19 bacaan kita untuk menunjuk siapakah sesungguhnya orang berdosa yang melakukan kejahatan tersebut. Salomo mengandaikan bahwa perbuatan orang berdosa itu bagaikan seekor burung yang terbang tanpa menyadari jerat jaring yang dibentangkan dihadapannya (ay.17). Sudah pasti ketika burung itu terbang bebas dan kenjang tidak mengetahui jaring didepannya, hasil akhir adalah kematiannya sendiri (ay.18).

Demikian juga dengan kebodohan orang berdosa ketika mengerjakan dosa. Seakan merasa bebas dan leluasa melakukan perbuatan jahat itu tanpa harus menanggung beban sedikitpun. Membunuh, merampok dan menjarah tanpa belas kasihan menjadi kesukaan yang tiada tara. Mereka berpikir bahwa tidak akan konsekuensi logis dari dosa tersebut. Namun, suatu saat nanti tanpa di sadari, di depan telah menanti jaring penghakiman atas segala perbuatan jahat mereka. Upahnya adalah kematian dan kesengsaraan.

6.       Pada bagian akhir perikop ini yakni ayat 19, Salomo menyimpulan pengajarannya dengan penekanan ajaran “tabur tuai”. Mereka adalah seperti burung yang melihat perangkat, tetapi tidak menyadari bahwa mereka telah masuk kedalamnya. Mereka bangkit untuk membunuh orang lain, justru merekalah yang menjadi korbannya. Kekayaan yang mereka dapatkan dari hasil kejahatan akan merampas mereka dari kehidupan mereka. Memang, orang yang mencari nafkah dengan memakai kekerasan akan membayarnya dengan nyawanya sendiri.


RELEVANSI DAN APLIKASI
Dari beberapa pokok uraian perikop ini, terdapat beberapa hal penting untuk direlevansikan dalam kehidupan kita, yakni:
1.       Perhatikanlah bahwa menurut Salomo ada dua sumber didikan, yakni summber didikan yang baik dan sumber didikan yang jahat. Sumber didikan yang baik datang dari orang tua; dan sumber didikan yang jahat akan datang dari bujukan orang berdosa.

Jika Salomo menunjuk bahwa sumber didikan yang baik datang dari orang tua, maka pernyataan ini justru harus menjadi evaluasi diri yang dalam bagi kita para orang tua. Evaluasi dimaksud berupa uji kopetensi diri dan kemampuan diri sebagai sumber didikan yang baik. Apakah sebagai orang tua kita telah mengajarkan apa yang baik? Benarkan bahwa dalam giat dan laku kita sebagai orang tua, anak menemukan teladan yang patut dicontohi untuk menjadi panutan yang benar dalam hal ajaran dan didikan?

Dengan demikian, tugas utama sebagai orang tua adalah menjadi pengajar dan pendidik yang baik. Tugas mulia ini harusnya dilakukan dengan takut akan Tuhan (ay.1). Artinya, ukuran ajaran itu baik adalah dalam bingkai takut akan Tuhan. Orang tua harus mengajarkan sesuatu yang terbingkai dalam ajaran takut Tuhan. Ukuran ini sangat jelas dan tak terbantahkan. Sehingga perintah penting bagi kita para orang tua adalah harus menjadi pribadi yang takut akan Tuhan untuk dapat mendidik dan mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita. Sebab bukankah ada banyak peristiwa tak terbantahkan bahwa kejatuhan anak dalam dosa ketika salah menjalani hidup ini datangnya dari didikan orang tua yang keliru?

2.       Di era teknologi canggih dan kemajuan zaman saat ini, sumber pengajaran bukan hanya datang dari perjumpaan dan bujuk rayu orang-orang jahat. Jikalau Salomo menyebut bahwa bujuk rayu orang jahat jangan dituruti karena mendatangkan dosa, maka pemahaman ini perlu diluaskan di tengah kemajuan jaman.

Sebagai orang tua, kita diajak untuk berhikmat dan bijaksana. Bahwa di zaman teknologi maju saat ini kita tidak hanya mengawasi pergaulan mereka dengan orang jahat yang akan mendatangkan dosa. Sebab kemajuan teknologi saat ini justru adalah salah satu sumber terbesar hadirnya pengajaran yang jahat dan sesat.

Perhatikanlah dan pilahlah acara televisi yang patut di tonton untuk pengajaran yang sehat; perhatikan pula penggunaan internet dan kejahatan dunia maya teknologi komunikasi (handpone, tablet dll) yang sudah terbukti menjerat banyak orang dalam dosa. Dengan kata lain, fungsi orang tua dalam mendidik bukan hanya mengajarkan hal yang baik namun juga memiliki waktu yang cukup untuk mengawai sumber2 pengetahuan lain yang mereka peroleh dierah globalisasi dan kemajuan teknologi ini.

3.       Bagaimanapun, apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai. Hal ini memberi makna penting dalam hal menjadi teladan sebagai orang tua kepada anaknya; dan menjadi pengajar yang baik bagi mereka. Pengajaran yang keliru akan menuai keburukan bagi mereka. Pola hidup tidak benar dari kita orang tua, akan membentuk karakter hidup tidak benar dalam diri anak-anak kita.

Karena itu marilah menjadi pengajar yang baik. Ajarkanlah kebenaran lewat takut akan Tuhan. Maka anak2 karunia kita akan menjadi pribadi yang baik dan benar di mata Allah dan beroleh masa depan yang cerah. Amin.

Monday, May 26, 2014

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 28 MEI 2014



ULANGAN 11:22-25

22 Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya,
23 maka TUHAN akan menghalau segala bangsa ini dari hadapanmu, sehingga kamu menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu.
24 Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari sungai itu, yakni sungai Efrat, sampai laut sebelah barat, akan menjadi daerahmu.
25 Tidak ada yang akan dapat bertahan menghadapi kamu: TUHAN, Allahmu, akan membuat seluruh negeri yang kauinjak itu menjadi gemetar dan takut kepadamu, seperti yang dijanjikan TUHAN kepadamu.


PENDAHULUAN
Kitab Ulangan merupakan kitab terakhir dari kitab-kitab Musa yang biasa disebut dengan Pentateukh (latin: 5 kitab/5 wadah/5 gulungan). Itu berarti Kitab Musa tediri dari lima kitab. Lima kitab dimaksud adalah: Kejadian, keluaran, imamat, bilangan dan ulangan.

Mengapa kitab kelima ini disebut dengan kitab Ulangan? Nama asli Ibrani dari kitab ini adalah ‘elleh haddebarim yang berarti “Inilah perkataan-perkataan” atau, lebih sederhana, debarim (“perkataan-perkataan; lih. 1:1). Selanjutnya ketika lima kitab Musa ini ditersemahkan ke dalam bahasa Yunani, kelima kitab ini kemudian disebut dengan istilah Septuaginta.

Dalam kitab Septuaginta atau biasa disimbolkan dengan LXX, kitab ini disebut dengan istilah to deuteronomion touto yang berarti “pemberian hukum yang kedua ini” yang diambil dari Ulangan 17:18. Penggunaan istilah “pemberian hukum yang kedua ini” didasari bahwa isi dari kitab ini adalah “Pengulangan” dari hukum2 yang sudah disampaikan Musa sebelumnya. Itulah sebabnya nama kitab Musa yang kelima ini dalam terjemahan Indonesia disebut sebagai Kitab Ulangan.

Kitab Ulangan berisi tentang pidato Musa ketika bangsa Israel sedang berada di wilayah Moab, di daerah di mana Sungai Yordan mengalir ke Laut Mati (1:5). Sebagai tindakan akhir melimpahkan kepemimpinannya kepada Yosua, ia memberikan kata-kata perpisahannya yang begitu emosional kepada bangsa Israel untuk mempersiapkan mereka masuk ke Kanaan. Penekanan rohani kitab ini adalah panggilan untuk berkomitmen total kepada Allah dalam ibadah dan ketaatan.

Dengan kata lain kitab ini merupakan nasehat Musa yang mengulang kembali kisah perjalanan umat selama 40 tahun di padang gurun dan mengingatkan mereka segala ketetapan –peraturan – hukum TUHAN, Allah Israel supaya mereka tidak melupakan Firman dan kisah perjalanan mereka bersama TUHAN ketika sebentar lagi memasuki Tanah Perjanjian yakni Negeri Kanaan.

TELAAH PERIKOP
Siapapun pasti takut dan gentar menghadapi orang-orang yang cakap perang jika diri sendiri tidak siap dan tidak berpengalaman dalam berperang. Hal inilah yang dihadapi oleh Israel ketika mereka sedang berada di seberang Kanaan dan dibatasi oleh aliran sungai Yordan. Sanggupkah mereka merebut kota Kanaan dan mendudukinya? Semua masih menjadi suatu kekuatiran.

Musa dalam khotbah perpisahannya, memberikan dukungan dan topangan agar umat menyakini pertolongan Tuhan. Ada berkat yang akan diberikan jika taat. Dan mereka pasti akan berhasil. Pokok pikiran ini terungkap dalam bacaan kita saat ini. Ada beberapa pokok penting mengenai cara memperoleh berkat itu yang disampaikan oleh Musa kepada umat Israel, yakni:

1.       Berpegang pada perintah Tuhan
Apa yang dilakukan seseorang jika hampir terjatuh? Sudah pasti ia akan mencari sesuatu untuk dipegang atau akan berpegangan pada sesuatu yang menjamin menjaga kejatuhannya.

Perintah Musa kepada Israel agar mereka harus “Berpegang pada perintah Tuhan” mengandung pengertian di atas. Yakni bahwa perintah Tuhan adalah pedoman untuk kelangsungan hidup dan keselamatan mereka di tanah Kanaan. Untuk dapat berpegang pada Perintah Tuhan, maka perlu bagi mereka tentunya untuk mendengar dulu isi perintah itu.

Mengapa hal ini penting? Sebab kenyataannya Israel tidak sungguh2 mendengar. Apa yang di sampaikan sangat dengan mudah mereka lupakan. Proses indah berbagai penyertaan Tuhan saja sudah dilupakan, apalagi mengingat perintah dan ketetapan Allah. Itulah sebabnya, untuk dapat berpegang pada perintah Tuhan, maka mereka harus sungguh-sungguh mendengar. Sungguh-sungguh mendengar memberi arti bahwa Israel bukan hanya mendengar sambil lalu, tapi Tuhan menuntut perhatian khusus mereka pada apa yang mereka dengar. Artinya mereka bukan hanya sekedar mendengar lalu melupakan, namun mendengar dan kemudian tetap mengingatnya.

Dampak dari ketaatan mendengar ini adalah menjadikan perintah Tuhan sebagai pegangan dalam hidup. Apapun yang terjadi, perintah dan ketetapan dari Tuhan harus menjadi pegangan dan tolak ukur kehidupan mereka.

2.       Mengasihi Tuhan Melalui Hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya
Banyak orang melakukan perintah karena alasan pokok yakni “rasa takut” dan “segan”. Efeknya adalah, mereka hanya taat karena takut dan enggan dan tidak dilakukan dengan ketulusan. Sebaliknya, jika mengerjakan sesuatu karena alasan cinta atau kasih, maka siapapun akan melakukannya dengan sepenuh hati kepada mereka yang dikasihi.

Hal inilah yang dimaksudkan oleh Musa. Bagian ini bicara soal ketaatan tanpa pamrih untuk mengikuti jalan atau cara hidup sesuai kehendak Tuhan dan bukan sesuai jalan hidup dan kehendak sendiri. Hal itu dilakukan dengan tulus karena mengasihi Allah dan bukan hanya karena takut dihukum.

Tidak dapat diragukan lagi bahwa bangsa Israel ini adalah bangsa yang bebal. Mereka cendrung melakukan apa yang dianggap baik dan menyenangkan mereka. Israel diminta mengikuti. Istilah “Menurut jalan yang ditunjukkanNya” ini setara artinya dengan mematuhi. Bukankah Israel terkenal sebagai umat bermental “persungutan”? Banyak hal mereka responi dengan bersungut dan membantah. Poin kedua ini mengandung makna penting bahwa mereka bukan hanya mendengar perintah, tapi harus mengingatnya; bukan hanya mengingat perintah, tapi harus juga mengerjakannya; bukan hanya sekedar mengerjakannya, tapi juga harus mengerjakan dengan benar; dan bukan hanya mengerjakan dengan benar, tetapi harus dilakukan tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantah sebagai wujud mereka mengasihi Allah dan bukan karena alasan terpaksa.

3.       Apa gunanya hidup dalam ketaatan?
Pada ayat 23-25 Musa menyampaikan bahwa jika mereka sungguh2 melakukan perintah dan ketetapan Allah sebagaimana yg diperintahkan ayat 22, maka negeri perjanjian yakni Tanah Kanaan akan menjadi milik mereka. Israel tidak perlu kuatir apakah mereka dapat merebut Kanaan. Sebab Kanaan tidak akan direbut susah payah oleh Israel, namun justru diberikan Tuhan bagi mereka.

Hal ini ingin menekankan bahwa hanya lewat ketaatan dan kepatuhan kepada Allah sajalah Israel akan memperoleh berkat. Berkat apakah yang akan mereka terima itu? Ada banyak jenis berkat yang akan Tuhan berikan, jika umat Israel sungguh-sungguh taat kepada Allah. Silakan bandingkan jenis berkat dalam Ulangan 28:1-10 dst. Pada ayat 1-5 kitab ulangan 28, kita menemukan bahwa: hingga urusan dapur, pekerjaan, kandungan dll akan diberkati Tuhan. Bahkan saat mereka masuk atau keluar Tuhan akan memberkati mereka.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Kita tidak mungkin berharap bahwa Allah akan memberkati dan menyertai kita, jika hidup yang kita lakukan tak berkenan kepadaNya. Hidup berkenan kepada Allah hanya dapat terlihat melalui gaya hidup dalam ketaatan melakukan segala yang Tuhan kehendaki.

Tanpa ketaatan, mustahil untuk menerima berkat penyertaan dan perlindungan Tuhan. Banyak orang hanya melakukan segala perintah dan Firman Tuhan dengan kemunafikan. Semua dilakukan tanpa ketulusan yang sungguh. Orang percaya diajak untuk mengerjakan perintah Tuhan dengan segenap hati dan jiwa. Itu semua hanya bisa dikerjakan jika kita mengasihi Allah.

Pribadi yang mengasihi Allah, adalah mereka yang rindu menyenangkan Tuhan yang dikasihinya, lewat melakukan segala yang Tuhan kehendaki. Karena itu lakukan dengan setia segala perintah dan FirmanNya sebagai wujud kita mengasihi Tuhan, yang telah lebih dulu mengasihi dan menyelamatkan kita. Tatatilah Tuhan!! Karena di sanalah janji bekat itu diberikan. Amin.