Monday, April 20, 2015

BAHAN RENUNGAN PKP 21 APRIL 2015

MENGINGAT RAYAKAN PERBUATAN TUHAN
SEBAGAI TANDA SYUKUR DAN  KETAATAN
(IMAMAT 23:33-38)

BAHAN RENUNGAN PKP 21 APRIL 2015

PENGANTAR
Pada pasal 23 kitab Imamat, TUHAN Allah melalui Musa mengatur tata cara perayaan keagamaan yang disebut dengan “pertemuan kudus” sebagai ketetapan hari-hari raya Israel yang wajib dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah di Firmankan (bd. Ay.1,2).

Tujuan utama dari pelaksanaan hari-hari raya tersebut adalah untuk mengajarkan umat tentang perbuatan TUHAN, Allah mereka yang ajaib di masa lalu. Perayaan hari-hari raya bangsa Israel berpusat kepada Tuhan yang telah membebaskan dan memberi berkat kepada bangsa Israel. Motivasi perayaan bangsa Israel adalah bersyukur atas segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan, bukan memohon berkat seperti bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, ketika umat Israel melaksanakan hari raya tersebut, mereka sekaligus menyatakan syukur dan pujian kepada Tuhan.

GALIAN/ TELAAH PERIKOP
Di pasal 23 ini terdapat daftar urutan pelaksanaan hari-hari raya israel yang harus mereka lakukan sesuai dengan petunjuk yang diberikan, yakni:
1.       Paskah (23:5) dan Roti Tidak Beragi (23:5-8) memperingati pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir.
2.       Hasil Pertama (hasil sulung 23:9-14) dan Pentakosta (hari kelimapuluh, 23:15-22) mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen yang diakui sebagai berkat Tuhan.
3.       Peniupan Serunai (23:23-25) adalah perayaan Tahun Baru Umum yang mengungkapkan sukacita dan syukur kepada Tuhan.
4.       Hari Pendamaian (23:26-32) adalah saat merendahkan diri dan memulihkan hubungan dengan Tuhan.
5.       Pondok Daun (23:33-43) memperingati bimbingan Tuhan saat bangsa Israel mengembara di padang gurun.

Untuk diketahui bahwa pencatatan bulan dalam kitab Imamat didasarkan pada kalender keagamaan yang dimulai pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir, Keluaran 12:2).

Pada ayat 33-38 perikop bacaan kita, TUHAN Allah meminta Musa agar Israel wajib melaksanakan hari raya pondok daun. Hari Raya Pondok Daun biasa disebut Ibrani khag hasukkot (Im 23:24; Ul 16:13) atau khag ha'asif (Kel 23:16; 34:22). Hari Raya ini adalah salah satu dari tiga pesta besar Yahudi, yang dirayakan dari tgl 15-22 bulan ke-7. Itu berarti hari raya ini dilakukan pada bulan ke-7 ketika mereka keluar dari tanah Mesir.

Pada awalnya hari raya ini dilakukan untuk memperingati perjalanan yang sulit bagi Israel yang hidup dipondok-pondok beratapkan ranting dan daun saat melakukan perjalanan sulit di padang gurun. Namun dalam perjalanan waktu setelah mereka hidup cukup lama di tanah perjanjian, dengan pergantian kekuasaan raja-raja hingga masa pembuangan dan sesudah pembuangan, bentuk pelaksanaan hari raya pondok daun ini mulai berubah.

Hari raya ini dikemudian hari dilakukan sebagai hari raya syukur panen. Inilah akhir tahun ketika panen dituai, dan merupakan salah satu dari pesta ketika setiap lelaki harus muncul di hadapan Tuhan (Keluarga 23:14-17; 34:23; Ulangan 26:16. Pesta itu sangat meriah (Ulangan 16:14). Nama 'hari raya pondok daun' berasal dari kebiasaan bahwa setiap orang Israel harus diam di pondok yg dibuat dari cabang dan daun selama 7 hari pesta itu (Imamat 23:42). 

Dalam perkembangan sejarah Israel, hari raya ini, yang ditetapkan oleh Allah, tidak pernah terlupakan. Diadakan pada waktu Salomo (2 Tawarikh 8: 13), Hizkia (2 Tawarikh 31:3; bandingkan Ulangan 16:16) dan sesudah Pembuangan (Ezra 3:4; Zakharia 14:6, 18-19). Upacara penumpahan air yang diadakan dalam pesta ini sesudah zaman Pembuangan, dan yang dicerminkan dalam pengumuman Yesus di Yohanes 7:37 dab, tidak ditetapkan dalam Pentateukh. Upacara ini mengakui bahwa hujan merupakan pemberian Tuhan yg dibutuhkan supaya tanah subur (bandingkan Zakharia 14: 17; 1 Samuel 7:6).

Namun inti dari pelaksanaan hari raya Pondok Daun ini adalah untuk mengingatkan orang Yahudi akan keluaran dari Mesir dan pengembaraan Israel di padang gurun pada saat mereka tinggal di pondok (Imamat 23:43). Hari raya ini adalah suatu peringatan dan syukur terhadap perbuatan Tuhan yang ajaib dalam kehidupan umat Israel. Kegiatan ini bukan saja sekedar pesta dan perayaan biasa, namun mengandung unsur-unsur penting, yakni:

1.       Tanda Ketaatan (ay.34)
Melaksanakan hari raya itu bukan berasal dari ide Musa atau kemauan Israel sendiri. Namun dari ayat 1 dst, termasuk ayat 34, pelaksanaan hari-hari raya tersebut dilakukan atas perintah TUHAN, Allah Israel. Dengan kata lain, jika mereka melakukan maka itu merupakan wujud ketaatan umat kepada Allah mereka.

2.       Ibadah kepada Allah (ay.35)
Hari-hari raya tersebut dilakukan dalam bentuk “Pertemuan Kudus”. Hal awalnya dilakukan di sekitar kemah pertemuan yang kemudiaan hari setelah Bait Allah dibangun, dilaksanakan di Bait Allah. Pertemuan itu menjadi kudus karena kehadiran Allah Yang Maha Kudus dalam kumpulan umat yang merayakan. Dengan kata lain, melakukan hari-hari raya tersebut adalah wujud peribadahan kepada Tuhan dan bukan sekedar perkumpulan biasa, atau pesta dan kemeriahan.

3.       Dipersiapkan dengan matang (ay.36)
Pada ayat 35 disebutkan agar mereka tidak melakukan pekerjaan yang berat. Selanjutnya dalam ayat 36 tjuh hari lamanya mereka berada dipondok sambil mempersembahkan korban bakaran atau korban api-apian. Tidak mudah melakukannya. Sudah pasti memerlukan persiapan. Itulah sebabnya tidak boleh ada pekerjaan berat supaya umat focus pada persiapan pelaksanaan perayaan tersebut.

4.       Unsur syukur ditonjolkan (ay.37)
Pada perayaan itu umat wajib memberi persembahan dalam bentuk korban bakaran, korban sajian, korban sembelihan dll. Hari raya itu merupakan wujud syukur yang ditandai dengan pemberian persembahan. Dengan demikian, setiap mereka melaksanakan hari-hari raya tersebut, umat Israel secara langsung diarahkan bahwa bentuk perayaan itu juga sebagai tanda datang bersyukur kepada Tuhan. Itulah sebabnya, ibadah Israel identik dengan syukur dan persembahan, karena mereka tidak pernah datang kepada Tuhan dengan tangan hampa (bd.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan uraian Firman Tuhan di atas, maka ada beberapa pokok penting yang menjadi bahan renungan untuk kita terapkan dalam kehidupan moderen saat ini, yaitu:

1. Apakah makna perayaan hari-hari raya gerejawi yang kita lakukan saat ini? Setiap perayaan hari raya Israel bukan saja mengandung makna namun juga sarat dengan didikan dan ajaran tentang Tuhan.mereka merasayakan pondok daun bertujuan untuk mengenang dan mengingat perbuatan Tuhan yang ajaib dalam perjalanan pengembaraan di Mesir dan juga rasa syukur atas panen diyakini sebagai berkat Tuhan. 

Jika mereka melakukannya tiap tahun sebagai suatu bentuk ketaatan, maka dari generasi ke   generasi Israel diajarkan untuk mengingat Tuhan dan bersyukur kepadaNya. Kitapun harusnya demikian. Bahwa setiap kegiatan perayaan yang kita buat harusnya mengndung makna pokok yang penting yakni bagi Tuhan dan untuk Tuhan. Sekaligus sebagai bahan pengajaran kepada generasi seterusnya tentang kemurahan Tuhan.

Artinya, fokus perayaan jangan hanya soal kemeriahan dan anggaran besar, sekedar melaksanakan program kerja dan atau hanya berupa rutinitas belaka. Kegiatan yang dilakukan harusnya fokus pada kemuliaan Tuhan untuk mengingat kemurahan dan kebaikan Tuhan. Itulah yang menjadi pokok ajaran kepada generasi seterusnya agar mereka tidak mengabaikan perayaan2 gerejawi yang harus dilaksanakan.

2.       Kegiatan perayaan gerejawi harus dilakukan sebagai wujud ketaatan kepada Allah yang diselenggarakan dengan khidmat dan kekudusan karena Tuhan diundang hadir saat itu. Ini berarti bahwa umat Tuhan termasuk kita saat ini tidaklah tepat memandang suatu perayaan sekedar pesta yang mengumbar kemeriahan tanpa menekankan kekudusan. Kita perlu menyiapakan dengan baik dan melakukan dengan sempurna karena Sang Maha Sempurna hadir dalam pertemuan itu.

Karena itu marilah mengajar anak-anak dan generasi kedepan; termasuk anggota keluarga kita agar bersungguh-sunguh memaknai tiap hari raya dengan benar dan tepat. Benar dan tepat adalah terukur dengan tujuan yang mulia, yakni untuk Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan. Amin.

Saturday, March 28, 2015

BERKAT ATAU KUTUK

IMAMAT 26 : 1- 6

“Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu hari ini berkat dan kutuk:...berkat, apabila kamu mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini...dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah Tuhan Allahmu dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal”
(Ul 11: 26-28)

Saudara-saudaraku...
Dewasa ini masih bayak orang Kristen yang keliru dalam memahami arti kata “Berkat dan Kutuk”. Ada yang dengan senang hati mempercayai adanya berkat, tetapi meragukan adanya kutuk karena dianggap berbau tahayul dalam dogeng-dongeng zaman purba. Padangan demikian sesungguhnya tidak realistis. Padahal di dalam dunia ini  ada dua kekuatan (magnit) yang saling tarik menarik, dua sisi yang saling berlawanan. Dua kutub magnit kekuatan yang sangat mempengaruhi hidup manusia. Misalnya, ada gelap dan terang, panas dan dingin, kebaikan dan keburukan, Rasul Paulus katakan, hidup dan roh dan hidup dalam daging, demikian halnya dengan berkat dan kutuk. Bahkan kata-kata berkat dalam Alkitab tercatat kurang lebih 410, sedangkan kata kutuk dalam berbagai bentuk tertulis kurang lebih 230 kali. Jadi unsur dikotomi antara keduanya selalu ada dan terhadap kedua kutub magnit kekuatan ini, manusia diminta untuk menentukan sikap!

Disamping itu ada yang menganggap bahwa kekayaan, kemakmuran, keberhasilan dan sejenisnya dijadikan standar penilaian untuk “berkat” atau orang-orang yang “diberkati Tuhan”. Sedangkan malapetaka, kemiskinan, penderitaan atau jenis bencana lainnya dijadikan standar penilaian untuk “kutuk” atau orang-orang yang “dikutuk Tuhan”. Seolah-olah  mereka yang mengalami bencana, penderitaan, miskin dan berkekurangan berarti ia tidak diberkati Tuhan atau menerima kutukan. Apakah benar demikian ? Marilah kita belajar dari apa yang dikatakan Ulangan 11: 26-28 dan terutama yang menjadi renungan kita hari ini Imamat 26:1-6
Refleksi terhadap teks
Sejak manusia memilih tidak taat dan memberontak kepada aturan Allah maka sejak itulah manusia kehilangan kemuliaan Allah, manusia kehilangan berkat Ilahi. (Rom 3: 23; 6:23)Dosa dipahami bukan sekedar pelanggaran moral etis tetapi sikap memberontak kepada Allah, pelanggaran terhadap kehendak Allah, yakni menolak otoritas Allah sebagai sumber berkat yang menentukan tujuan hidup manusia. Karena itu dosa mengandung konsekwensi-konsekwensi logis, apakah kita akan hidup dengan “berkat Ilahi”atau tetap hidup dalam “kutukan”.

Kata berkat berasal dari kata benda “barakh” bentuk aktifnya adalah kata kerja “brk” yang diucapkan untuk memberkati dengan menyebut nama Yahweh. Bentuk pasifnya adalah dari kata kerja “bruk” yang digunakan untuk Yahwe. Ibr, memperlihatkan dua ciri kata berkat, yaitu “brk” dalam bentuk. qal: “to knell” (Maz. 95:6; 2Taw. 6:13), dalam bentuk hiphil: “to make(camels) kneel” (Kej. 24:11). Yang kedua dari kata benda “berekh”: “knee”(Yes.45:23) Selain itu, kata ini juga digunakan untuk mengambarkan relasi antara atasan dan bawahan, yaitu ketika bertemu dengan atasannya maka bawahan harus berlutut. Dalam bahasa Semitic juga diterjemahkan: “knee”, “blessing”.

Dalam PL berkat adalah kemurahan yang dikaruniakan Allah kepada umatNya, seperti pada waktu panen (Ul. 28:8). Berkat juga merupakan salah satu dari kata-kata pujian bagi Allah atau kata-kata untuk membuat seseorang atau sesuatu menjadi kudus”. Kata “berakah” atau bahasa Arab“barokah”. Kata berkat juga sering dihubungkan dengan karunia benda, seperti material (Ul. 11:26; Amsl. 10:22; 28:20; Yes. 19:24 dll) berkat adalah karya Allah (Kej. 1:22), penyembahan dan pujian kepada-Nya (Kej. 24:48), pemilihanTuhan (Ul. 19:2, 7; 10:8) berkaitan dengan kesetiaan pada perjanjian Tuhan (Ul.28:15-46).

Paulus memakai kebenaran tentang berkat ini untukmenjelaskan ajaran penyelamatan Allah didalam pengorbanan Tuhan Yesus kristusdiatas kayu salib (salib lambang dari kutuk). Hukum menjadi kutuk bagi mereka yanggagal menaatinya, tapi Kristus menyelamatkan kita dengan menjadi kutuk bagikita. (Gal 3: 10,13) Berkat itu adalah anugerah dan kasih karunia Allah, yangharus dilihat secara holistik (tidak berbicara soal material saja, tetapikeseluruhan hidup manusia kini dan mendatang) dan otoritas berkat itu ada padaAllah sendiri sebagai sumber berkat  dalamrelasiNya dengan manusia. Jadi kita melihat di sini bahwa relasi adalahsegalanya untuk menentukan apakah manusia hidup dalam “berkat Ilahi” atau hidupdalam  “kutukan”.

Sekarang kita bicara tentang kutuk. Adakah disaat-saat tertentu Saudara berpikir, mengapa kehidupan saya nampaknya terus menderita, gagal dan tidak lepas dari masalah, apakah saya telah terkena suatu kutuk tertentu? Bagaimana jalan keluarnya? Benarkah demikian ?
Ungkapan kata “kutuk”  kebalikan dari berkat. Dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan dengan “kutuk” adalah “qlalah alah arar” dalam LXX diterjemahkan dengan “kitara, kataraomai, epikataratos. Di luar PL kutuk berasal dari akar kata “lh” asli dari bahasa Arab. Bentuk kata yang lainnya adalah “lw” dan “alwe” dan benuk konstruknya adalah “lt” yang berarti “kutuk’dan “janji”.  Arti asasi dari “kutuk  atau “pengutukan” dimana seseorang dapat mengucapkan kutuk, menginginkan kerugian orang lain (Ayub 31:30; Kej12:3); atau untuk menguatkan janjinya sendiri (Kej 24:41; 26:28; Neh 10:29); atau untuk menjamin kebenaran kesaksiannya dalam hukum (1 Raj 8:31; bnd Kel 22:11). Jika Allah mengucapkan kutuk,pertama-tama ialah celaan atas dosa (Bil 5:21, 23; Ul 29:19, 20); kedua, kutuk itu ialah penghukumanNya atas dosa (Bil 5:22, 24, 27; Yes 24:6); dan ketiga, orang yang menderita akibat-akibat dosa karena penghakiman Allah disebut suatu kutuk (Bil5:21, 27; Yer 29:18).

Alat atau sarana dasar yang dipakai sebagai perantara(medium) untuk menyampaikan berkat atau kutuk adalah “kata-kata” atau “ucapan”dan tulisan atau dalam hati (baca Ams 11:9; 12:18;  15:4; 18:21) Yakobus memakai contoh yang menarik yang menekankan bahwa kata-kata memiliki kuasa yang luar biasa yang dapat berpengaruh terhadap manusia maupun keadaan tertentu dan pengaruh yang ditimbulkannya ada yang bersifat baik (mendatangkan berkat) dan ada yangbersifat tidak baik (yang mendatangkan kutuk) dengan mengatakan: “dengan lidah kita memuji Tuhan Bapa kita dan dengan lidah kita mengutuki manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk, hal- ini Saudara-saudara tidak boleh demikian terjadi” (baca Yak 3:5-6;9-10)

Dalam konteks Imamat pasal 26:1-6 secara khusus berbicara tentang ucapan berkat, antara lain dikatakan: “aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan diladangmu akan memberi buahnya (band. Ul 28:1,2) ...kamu akan makanan makananmu sampai kenyangdan diam dinegerimu dengan aman tenteram...Aku akan memberi damai sejahtera didalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu dan pedang tidak akan melintas dinegerimu” (ay 4, 5b,6)

Siapa kah yang tidak mau menerima janji berkat seperti ini? dimana tanah tempat kita tinggal diberkati Tuhan, kita juga  diberkati secara ekonomi, dan tidak ada kekerasan, kriminalitas atau peperangan tetapi kita hidup dengan aman tenteram dan dalam damai sejahteraNya. Setiap Saudara pasti senang ketika dijanjikan dengan berkat-berkat seperti ini bukan!. Sayangnya, banyak orang hanya mau menerima berkat Tuhan, tetapi tidakmau hidup sesuai dengan kehendakNya agar berkatNya dicurahkan!

Ada konsekwensi logis agar supaya kita menerima berkat-berkatNya.Apakah itu?  Seperti yang dikatakan diayat 1 dan 2 “Janganlah kamu  membuat berhala bagimu dan patung atau tugu berhala, janganlah kamu dirikan bagimu; juga batuberukir, janganlah kamu tempatkan dinegerimu untuk sujud menyembah kepadanya,sebab Akulah Tuhan, Allahmu..kamu harus memelihara hari-hari SabatKu danmenghormati tempat kudusKu, Akulah Tuhan”.

Artinya, kalau kita sudah percaya kepada Tuhan Yesus, jangan lagi percaya dan pergi menyembah berhala-berhala, kedukun-dukun, paranormal, orang pinter. Hal-hal inilah yang akan menjadi kutuk bagi kita! Kita harus membangun relasi kita  yang baik dan benar dengan Tuhan atau memelihara persekutuan yang intim denganTuhan. Relasi seseorang dengan Tuhan akan memberi penjelasan apakah kita hidup dalam berkat Ilahi atau dalam kutuk. Jika kekayaan membuat seseorang itu menjauhkan diri dari Tuhan, maka itu adalah kutuk, karena kekayaan tidak memberi jaminan orang bisa hidup sejahtera, sukacita dan bahagia. Hanya ada satu jalan keluar yang disediakan Allah yaitu melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus diatas kayu  salib. (salib adalah lambang kutuk)

Bahkan dikatakan selanjutnya “...tetapi jikalau kamu tidak mendengarkan Daku, dan tidak melakukan segala perintah itu..jikalau kamu menolak ketetapanKu dan hatimu muak mendengar peraturanKu sehingga kamu tidak melakukan segala perintahKu dan kamu mengingkari perjanjianKu...maka kamu Akupun akan mendatangkan kekejutan atasmu, batuk kering serta demam yang membuat mata rusak dan jiwa merana; kamu akan sia-sia menabur benihmu, hasilnya akan habis dimakan musuhmu” (ay 14-16; baca ay 17-39)

Lebih keras lagi diingatkan dan diulangi di keluaran, dimana umat diperhadapkan pada pilihan, apakah mereka mau hidup dalam berkat atau kutuk dan pilihan itu akan menentukan apa yang akan terjadi dengan kehidupan dan masa depan mereka, “Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu hari ini berkat dan kutuk: ...berkat, apabila kamumendengarkan suara Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hariini...dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah Tuhan Allahmu dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal” (Ul 11: 26-28)


Jadi yang menentukan semuanya apakah itu berkat atau kutuk adalah seperti apa relasi Saudara dengan Tuhan. Jika relasinya harmonis, yakni apapun yang seseorang alami, entah senang ataupun susah, entah gagal atau berhasil, entah berkempihan berkat atau tidak, jika Saudara semakin dekat dengan Tuhan maka itu  adalah berkat bagiSaudara. Dan jika sebaliknya yang terjadi, sekalipun Saudara memiliki segalanya (kelimpahan berkat) tetapi ternyata hidup Saudara semakin hari semakin jauh diadari Tuhan sehingga relasinya terputus maka itu adalah kutuk. Amin 

Monday, October 6, 2014

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA 08 OKTOBER 2014

ESTER 7:8-10


Seorang bapak membawa anaknya ke sebuah lembah. "Nak, coba kamu teriakkan sebuah kata," ujarnya. "Untuk apa, Pak?" tanya sang anak. "Coba saja," kata bapak itu lagi. Sang anak menurut. Ia beranjak ke ujung lembah.  Anak itupun berteriak "Hai!". Sejenak sepi dan tidak terdengar balasan apa-apa. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara gema dari arah lembah, "Hai …  hai …  hai … " Begitu pula dengan setiap kata yang diteriakkannya setelah itu. Kembali dengan kata yang sama. Bapak itu pun membukakan hikmah yang hendak ia ajarkan. "Nak, seperti itulah hidup kita. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai," katanya.

Umat Tuhan....
Bacaan hari ini mencatat kejadian yang membuktikan tentang hukum tabur tuai tersebut. Kisah ini harus di runtut dari permulaan untuk dapat mengerti kisah seutuhnya dari bacaan kita. Kisah ini sebaiknya di mulai dari pasal 4 kitab Ester, yakni Setelah peristiwa berhasilnya Mordekhai menggagalkan rencana pembunuhan raja Ahasyweros. Muncul masalah baru muncul bagi Mordekhai ketika ia bertemu dengan Haman, pejabat tinggi raja. Haman adalah keturunan bangsa Amalek dan musuh orang Yahudi (Keluaran 17:14-16; Ulangan 25:17-19). Sedangkan Mordekhai adalah adalah keturunan raja Saul, raja pertama Israel yang mengalahkan orang Amalek (1 Samuel 15:1-33).

Haman menetapkan agar semua pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berlutut dan sujud kepada Haman,  sesuai dengan perintah raja. Namun Mordekhai yang juga adalah pejabat istana raja, tidak mau melaksanakan perintah untuk berlutut dan bersujud kepada Haman. Mendengar laporan tersebut panaslah hati Haman (Ester 3). Sebenarnya Mordekhai menolak perintah tersebut, bukan karena ia tidak menghormati kedudukan dan jabatan Haman. Namun karena Mordekhai hanya boleh sujud dan menyembah Tuhan Allah yang ia sembah.

Karena kecewa atas sikap Mordekhai. Maka secara terus menerus Haman merancang muslihat, untuk memusnahkaan kaum Yahudi di kerajaan Ahasyweros dengan merekayasa suatu fakta tentang kaum Yahudi yang sangat dikenal dengan fanatisme mereka terhadap Tuhan Allah yang mereka sembah (Ester 3).  Maka Haman menghadap raja Ahayweros untuk menghasut raja agar kaum Yahudi dimusnahkan dari kerajaan Ahasyweros.

Umat Tuhan....
Muslihat jahat Haman tidaklah berjalan mulus, karena Mordekhai dan ratu Ester tidak tinggal diam untuk menolong kaumnya dari niat jahat Haman. Dengan kerendahan hati dan dengan kelemahlembutannya, ratu Ester memohon kepada raja agar mempertimbangkan kembali keputusannya untuk memusnahkan kaumnya dari kerajaan Ahasyweros. Atas permohonan ratu Ester tersebut raja Ahasyweros menanyakan kepada ratu Ester, siapakah sebenarnya yang menjadi otak dari  muslihat tersebut. Dengan berani Ester mengatakan bahwa Hamanlah yang merancangnya (pasal 7 ayat 6). Mendengar perihal tersebut, takutlah Haman sehingga ia menghadap sang ratu, berlutut pada katil tempat ratu Ester berbaring. Haman memohon kepada ratu Ester agar ia dimaaafkan. Ketika raja kembali dari taman istana, ia melihat pemandangan tersebut tidak pantas dilakukan oleh seorang pejabat istana terhadap sang ratu (ayat 8). Maka raja menitahkan agar Haman dihukum mati.

Haman kena batunya. Sehari sebelumnya dia telah mendampingi seorang Yahudi mengadakan pawai kemenangan di sepanjang jalan-jalan kota itu, sekarang ia mengemis kepada seorang perempuan Yahudi untuk menyelamatkan nyawanya! Para sida-sida tampaknya telah melaporkan sejumlah kejahatan yang dilakukan oleh Haman agar sesuai dengan amarah raja kepadanya, dan mengakhiri laporan tersebut dengan menunjuk pada tiang setinggi tujuh puluh lima kaki yang ada di halaman rumah Haman yang kelihatan dengan jelas dari istana. Dengan mengikuti saran dari para penasihatnya, seperti biasa, raja memerintahkan untuk menggantung Haman di tiang yang telah dibangun sendiri olehnya.

Umat Tuhan....
Perjuangan Mordekhai dan ratu Ester mempertahankan dan menjaga keutuhan kehidupan kaum Yahudi di kerajaan Ahasyweros tidaklah sia-sia, meskipun dalam sekian waktu lamnaya Mordehkai dan ratu Ester harus merahasiakan identitas mereka. Namun tindakan tersebut adalah suatu perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa untuk keselamatan kaumnya.
Sikap yang rendah hati dan sikap hormat yang diwariskan Mordekhai kepada ratu Ester menjadikan ratu Ester gigih memperjuangkan keselamatan kaumnya dari niat jahat Haman. Ratu Ester tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya bersama Mordekhai semata-mata, tetapi ia mau berkorban dan berjuang untuk seluruh lapisan masyarakat di kerajaan Ahasyweros.

Umat Tuhan....
Firman Tuhan mengajarkan kepada kita supaya kita menabur yang baik, karena apa yang kita tabur pasti akan kita tuai (Galatia 6:7). Kalau kita menabur yang baik, kita pasti menuai yang baik pula. Demikian sebaliknya, kalau kita menabur yang tidak baik, pasti kita akan menuai yang tidak baik juga. Seseorang pernah berkata, “jangan lemparkan batu kepada orang lain, karena jika itu kembali kepadamu, pasti sangat menyakitkan. Lemparkan roti kepada orang lain dan jika itu kembali kepadamu pasti menyenangkan.”

Menabur dan menuai adalah dua hal yang saling terkait. Tidak saja dalam pertanian, tetapi juga dalam hidup sehari-hari. Ketika kita menanam benih padi yang baik, biasanya kita pun akan menuai padi yang baik. Ingatlah bahwa kehidupan kita seperti Bumerang, Apa yang kita lemparkan itu juga yang akan kembali. Haman menabur kejahatan, maka dia sendirilah yang menuai kejahatan itu. Kitapun diajarkan agar selalu menabur dan meranjangkan kebaikan bagi orang lain, supaya hanya kebaikanlah yang kita terima.

Umat Tuhan....
Kisah dalam bacaan kita ini juga menunjukkan bahwa kekuasaan seseorang bagaimanapun tingginya masih mempunyai batasan. Kekuasaan yang dimiliki oleh Haman terbendung oleh kekuasaan raja, sehingga dengan kejahatan yang telah dilakukannya itu, raja memerintahkan untuk menggantung Haman di tiang yang telah dibangunnya sendiri.

Karena itu, berita Firman Tuhan hari ini juga mengajak kita semua untuk bersedia merendahkan hati dalam situasi apapun supaya kita jangan “kena batunya” seperti Haman. Tidak ada hukuman yang terlewatkan oleh Tuhan untuk setiap perbuatan jahat yang dilakukan manusia baik dari jaman dahulu sampai dengan jaman sekarang. Setiap hari kejahatan manusia terus terjadi dan terungkapnya kasus karena Tuhan menghukum melalui proses yang tidak satu orang manusiapun yang mampu menyimpan kejahatan itu. Atau dengan perkataan lain sehebatnya menutupi kesalahan maka akan terungkap juga dan sanksi akan dihadapi oleh yang bersangkutan. Mari kita selalu berbuat baik dan benar di dalam Tuhan. Salam damai. Amin.





Monday, September 1, 2014

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA RABU 3 SEPTEMBER 2014



KOLOSE 2:6-15

Pendahuluan
Kolose adalah sebuah kota kecil di Lembah Likus yang indah, sekitar 100 mil (160 Km) sebelah timur efesus, dekat denizli, Turki moderen, berdekatan dengan Laodikia yang lebih makmur. Rasul Paulus bersama dengan Timotius mengalamatkan suratnya kepada jemaat yang disebut sebagai “saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose”. Rupanya, ia sedang berada di penjara Roma, bersama dengan Epafras ia membangun jemaat ini yang pada mulanya adalah orang-orang kafir (1:21; 2:12; 3:7).

Paulus dan Epafras mendengar masalah yang ada di jemaat itu yang disebabkan oleh mereka yang dikatakannya “yang memperdaya” jemaat dengan kata-kata indah (2:4) “mereka yang menawan kamu dengan filsafat kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia (2:8). Kata-kata atau filsafat kosong dan palsu atau jelasnya pengajaran sesat yang dibawa oleh kelompok tertentu rupanya mulai mempengaruhi penghayatan iman jemaat kepada Kristus. Rupanya diantara mereka sudah ada yang mulai tergoncang imannya dan mulai bergeser dari pengharapan Injil yaitu Yesus Kristus.

Penjelasan dan Tafsiran Teks
Sulit memang untuk mengindentifikasi kelompok penyesat yang mengancam kehidupan jemaat Kolose, tetapi ajaran dan praktek mereka di sebut sunat (2:11,13) sebagai bagian dari ketentuan hukum Taurat (2:14). Rupanya jemaat Kolose dipaksa untuk mengikuti ketentuan Hukum Taurat berupa sunat sebagai salah satu syarat untuk beroleh keselamatan. Paulus menentang hal ini dan menjelaskan kepada jemaat Kolose bahwa keselamatan mereka ditentukan bukan oleh Sunat atau ketaatan pada Hukum Taurat, melainkan oleh anugerah keselamatan dalam penebusan Yesus Kristus.

Dalam Perjanjian Lama sunat adalah suatu tanda dan menjadi identitas bagi umat pilihan Allah. Kisah tentang asal mula tanda itu termuat dalam Kejadian 17:10,11. Ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, sunat ditetapkan sebagai tanda perjanjian itu untuk selamanya. Sekarang, sunat hanyalah tanda dalam daging, sesuatu yang dilakukan pada tubuh manusia. Namun, apabila orang ingin mengadakan hubungan yang khusus dengan Allah, diperlukan sesuatu yang lebih daripada sekedar tanda pada tubuhnya. Ia harus memiliki hati, pikiran, dan karakter tertentu. Di sinilah sebagian orang Yahudi membuat kekeliruan. Mereka memandang sunat dalam dirinya sendiri sebagai sesuatu yang cukup untuk menjadikan mereka khusus bagi Allah. Jauh sebelum itu, guru-guru besar dan para nabi agung telah melihat bahwa sunat daging pada dirinya sendiri tidaklah cukup dan oleh karena itu dibutuhkan sunat rohani.

Dalam kitab Imamat si pemberi hukum berkata tentang hati yang disunat, maksudnya umat Israel harus merendahkan hati untuk menerima hukuman Allah (Im.26:41). Seruan penulis Kitab Ulangan adalah, “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk” (Ul 10:16). Ia berkata bahwa Tuhan akan menyunat hati mereka supaya mereka mengasihi-Nya (Ul 30:6). Yeremia berbicara tentang telinga yang tidak disunat, yaitu telinga yang tidak mau mendengar firman Allah (Yer 6:10). Penulis Kitab Keluaran menulis tentang lidah yang tidak.

Hal senada dan tegas juga disampaikan Paulus dalam bacaan kita. Bahwa menurut Paulus, sunat lahiriah tidaklah menjamin keselamatan seseorang. Sunat Kristus yakni penebusanlah yang lebih utama. (ay.11). Yang dimaksud Paulus tentang Sunat Kristus adalah mengenai penanggalan tubuh yang berdosa. Sunat biasa hanya sebagian tubuh, sedangkan sunat Kristus adalah menangalkan seluruh tubuh yang berdosa menjadi ciptaan baru di dalam penebusan yang dilkakukan Kristus yakni mengampuni segala dosa (ay.13).

Penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus itu bagaikan menghapuskan surat hutang (ay.14).  Ungkapan “surat hutang” berasal dari dunia perniagaan. Surat hutang itu ditandatangani oleh pihak yang berhutang, sehingga surat tersebut mempunyai nilai hukum. Paulus memakai ungkapan ini untuk berfungsi sebagai metafor untuk menyatakan bahwa kita berhutang kepada Allah, yang olehnya kita diganjar dengan maut (Rm 6:23). Namun tak seorangpun di dunia ini yang dapat melunasi hutang itu. Yesuslah yang melunaskan hutang itu dengan mati di kayu salib.

Menarik untuk diperhatikan dalam ayat 14 dan 15 bahwa sekonyong-konyong Paulus mulai memakai istilah “kita” dalam tulisannya, yang sebelumnya menyebut dan menyapa dengan kamu. Para pembaca surat ini adalah orang-orang bukan Yahudi, sedang Paulus adalah seorang Yahudi. Paulus tidak mengecilkan perbedaan antara seorang yang disunat dan yang tidak disunat. Tetapi pada dasarnya keduanya sama. Yahudi dan kafir, kedua-duanya harus hidup dari pengampunan dosa. Kedua-duanya berdosa di hadapan Allah. Maka Yahudi dan kafir kedua-duanya mendapat dari Allah keampunan di dalam Kristus. Sebab itu sekonyong-konyong Paulus berpindah dari kata “kamu” kepada “kita” di dalam ayat 13 dan 14. Ia menggolongkan dirinya sendiri di dalam lingkungan itu. Dengan kata lain, Paulus bersedia menyebut dirinya sama dengan kelompok tak bersunat. Ia sangat tidak mempersoalkan tentang arti sunat itu sendiri.

Relevansi dan Aplikasi
Berdasarkan Uraian di atas, silakan membuat relevansi dan aplikasinya dengan penekanan pada:

1.         Keselamatan datang sebagai anugerah
Dengan tegas Paulus mengingatkan kita bahwa akibat dosa kita bagaikan orang yang perlu ditebus hutangnya agar terbebas dari ikatan perjanjian dosa. Sebagai pribadi yang terikat perjanjian itu, kita tidak bisa menebus diri kita sendiri. Di sinilah peran Yesus yang mengambil alih surat hutang tersebut dan menebus kita dengan membayar harga, yakni nyawaNya sendiri. Kita diselamatkan oleh karena anugerah Tuhan itu.

Sayangnya, ketika bicara tentang keselamatan sebagai anugerah, maka seringkali nilai dan maknanya kurang dihargai. Keselamatan adalah anugerah. Gratis tapi harganya mahal, yakni kematian Kristus bagi kita. Gratis tidak berarti murah apalagi murahan. Harganya sangat mahal yakni semahal nyawa anak Allah, Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, menghargai keselamatan adalah kesediaan kita memberi nilai terhadap anugerah yang mahal itu, lewat menjaga hidup kita agar tidak mencoreng dan mengotori nilai sakral dari keselamatan itu.

2.         Sunat Hati lebih penting dari sunat lahiriah.
Sunat hati adalah bentuk pertobatan yang mendasar, yaitu membuang dari hati sikap yang keras kepala terhadap firman Tuhan dan sikap yang terbuka kepada dosa. Bersunat hati berarti memblokir hati dari ajakan berbuat dosa, dan mengarahkannya kepada petunjuk firman. Sunat hati berarti pertobatan dari dalam. Orang bisa saja bersunat lahiriah, tetapi hati dan pikirannya tertawan dosa. Orang yang bersunat hati menjadikan hati dan pikirannya milik Kristus. Sunat hati adalah metafora lahir baru, yaitu pertobatan yang dimulai dari anugerah keselamatan oleh Yesus. Mereka yang sudah disunat hatinya mampu menolak godaan dunia untuk tetap hidup dalam dosa, sebaliknya dengar-dengaran firman Tuhan untuk hidup kudus.

Dengan kata lain, seorang yang mengaku diselamatkan dan percaya kepda Kristus, adalah pribadi yang bersedia mengekang diri dan hatinya dari berbgai perbuatan kejahatan. Bukankah menjadi kenyataan tak terpungkiri bahwa banyak yang menyebut diri Kristen, namun pola laku hidup tidak sesuai dengan Kristus? Itu berarti belum mampu menyunat hatinya. Secara lahiriah, mungkin kita menunjukkan berbagai indikasi sebagai pengikut Kristus. Pergi ke gereja, membaca Alkitab, rajin berbuat baik. Namun, jika hati kita masih menikmati dosa, diliputi ketakutan, kebimbangan, egoisme, kepentingan diri sendiri, kita harus meminta Roh Kudus menyelidiki hati kita, adakah kita sudah bersunat hati seperti yang Tuhan inginkan?

3.         Jadilah berkat bagi orang lain yang “berbeda” melalui kesaksian hidup kita.
Paulus dalam ayat 13 dan 14 mengidentifikasi dirinya dengan kaum tak bersunat alias orang2 golongan non Yahudi. Pada zaman itu tindakan Paulus tidaklah lazim. Sebab biasanya, orang Kristen Yahudi merasa lebih unggul dengan non Yahudi. Namun ketika Paulus menyapa dengan sebutan “kita” dan bukan “kamu”, maka hal itu memberi gambaran jelas bahwa Paulus menerima mereka sebagai bagian yang sama dengan dirinya. 

Bukankah seharusnya demikian orang yang sudah percaya? Pengikut Kristus harus mampu merendahkan hati di hadapan Kristus dan bersedia menerima perbedaan sebagai anugerah Allah. Mampu menganggap orang lain sebagai saudara dan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang bersaksi agar menjadi berkat bagi mereka yang berbeda dengan kita. Kita dapat menghancurkan musuh bukan dengan cara membenci musuh kita; namun dengan cara mengubahnya menjadi sahabat.

Karena itu, marilah membangun hidup kita agar berpadanan dengan Kristus. Biarlah kita tetap hidup di dalam Dia, dan dibangun Dia. Sehinga kita mampu berakar dan bertumbuh karena Kristus, sehingga berbuah bagi kemuliaan namaNya. Amin.