Monday, September 1, 2014

BAHAN RENUNGAN IBADAH KELUARGA RABU 3 SEPTEMBER 2014



KOLOSE 2:6-15

Pendahuluan
Kolose adalah sebuah kota kecil di Lembah Likus yang indah, sekitar 100 mil (160 Km) sebelah timur efesus, dekat denizli, Turki moderen, berdekatan dengan Laodikia yang lebih makmur. Rasul Paulus bersama dengan Timotius mengalamatkan suratnya kepada jemaat yang disebut sebagai “saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose”. Rupanya, ia sedang berada di penjara Roma, bersama dengan Epafras ia membangun jemaat ini yang pada mulanya adalah orang-orang kafir (1:21; 2:12; 3:7).

Paulus dan Epafras mendengar masalah yang ada di jemaat itu yang disebabkan oleh mereka yang dikatakannya “yang memperdaya” jemaat dengan kata-kata indah (2:4) “mereka yang menawan kamu dengan filsafat kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia (2:8). Kata-kata atau filsafat kosong dan palsu atau jelasnya pengajaran sesat yang dibawa oleh kelompok tertentu rupanya mulai mempengaruhi penghayatan iman jemaat kepada Kristus. Rupanya diantara mereka sudah ada yang mulai tergoncang imannya dan mulai bergeser dari pengharapan Injil yaitu Yesus Kristus.

Penjelasan dan Tafsiran Teks
Sulit memang untuk mengindentifikasi kelompok penyesat yang mengancam kehidupan jemaat Kolose, tetapi ajaran dan praktek mereka di sebut sunat (2:11,13) sebagai bagian dari ketentuan hukum Taurat (2:14). Rupanya jemaat Kolose dipaksa untuk mengikuti ketentuan Hukum Taurat berupa sunat sebagai salah satu syarat untuk beroleh keselamatan. Paulus menentang hal ini dan menjelaskan kepada jemaat Kolose bahwa keselamatan mereka ditentukan bukan oleh Sunat atau ketaatan pada Hukum Taurat, melainkan oleh anugerah keselamatan dalam penebusan Yesus Kristus.

Dalam Perjanjian Lama sunat adalah suatu tanda dan menjadi identitas bagi umat pilihan Allah. Kisah tentang asal mula tanda itu termuat dalam Kejadian 17:10,11. Ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, sunat ditetapkan sebagai tanda perjanjian itu untuk selamanya. Sekarang, sunat hanyalah tanda dalam daging, sesuatu yang dilakukan pada tubuh manusia. Namun, apabila orang ingin mengadakan hubungan yang khusus dengan Allah, diperlukan sesuatu yang lebih daripada sekedar tanda pada tubuhnya. Ia harus memiliki hati, pikiran, dan karakter tertentu. Di sinilah sebagian orang Yahudi membuat kekeliruan. Mereka memandang sunat dalam dirinya sendiri sebagai sesuatu yang cukup untuk menjadikan mereka khusus bagi Allah. Jauh sebelum itu, guru-guru besar dan para nabi agung telah melihat bahwa sunat daging pada dirinya sendiri tidaklah cukup dan oleh karena itu dibutuhkan sunat rohani.

Dalam kitab Imamat si pemberi hukum berkata tentang hati yang disunat, maksudnya umat Israel harus merendahkan hati untuk menerima hukuman Allah (Im.26:41). Seruan penulis Kitab Ulangan adalah, “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk” (Ul 10:16). Ia berkata bahwa Tuhan akan menyunat hati mereka supaya mereka mengasihi-Nya (Ul 30:6). Yeremia berbicara tentang telinga yang tidak disunat, yaitu telinga yang tidak mau mendengar firman Allah (Yer 6:10). Penulis Kitab Keluaran menulis tentang lidah yang tidak.

Hal senada dan tegas juga disampaikan Paulus dalam bacaan kita. Bahwa menurut Paulus, sunat lahiriah tidaklah menjamin keselamatan seseorang. Sunat Kristus yakni penebusanlah yang lebih utama. (ay.11). Yang dimaksud Paulus tentang Sunat Kristus adalah mengenai penanggalan tubuh yang berdosa. Sunat biasa hanya sebagian tubuh, sedangkan sunat Kristus adalah menangalkan seluruh tubuh yang berdosa menjadi ciptaan baru di dalam penebusan yang dilkakukan Kristus yakni mengampuni segala dosa (ay.13).

Penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus itu bagaikan menghapuskan surat hutang (ay.14).  Ungkapan “surat hutang” berasal dari dunia perniagaan. Surat hutang itu ditandatangani oleh pihak yang berhutang, sehingga surat tersebut mempunyai nilai hukum. Paulus memakai ungkapan ini untuk berfungsi sebagai metafor untuk menyatakan bahwa kita berhutang kepada Allah, yang olehnya kita diganjar dengan maut (Rm 6:23). Namun tak seorangpun di dunia ini yang dapat melunasi hutang itu. Yesuslah yang melunaskan hutang itu dengan mati di kayu salib.

Menarik untuk diperhatikan dalam ayat 14 dan 15 bahwa sekonyong-konyong Paulus mulai memakai istilah “kita” dalam tulisannya, yang sebelumnya menyebut dan menyapa dengan kamu. Para pembaca surat ini adalah orang-orang bukan Yahudi, sedang Paulus adalah seorang Yahudi. Paulus tidak mengecilkan perbedaan antara seorang yang disunat dan yang tidak disunat. Tetapi pada dasarnya keduanya sama. Yahudi dan kafir, kedua-duanya harus hidup dari pengampunan dosa. Kedua-duanya berdosa di hadapan Allah. Maka Yahudi dan kafir kedua-duanya mendapat dari Allah keampunan di dalam Kristus. Sebab itu sekonyong-konyong Paulus berpindah dari kata “kamu” kepada “kita” di dalam ayat 13 dan 14. Ia menggolongkan dirinya sendiri di dalam lingkungan itu. Dengan kata lain, Paulus bersedia menyebut dirinya sama dengan kelompok tak bersunat. Ia sangat tidak mempersoalkan tentang arti sunat itu sendiri.

Relevansi dan Aplikasi
Berdasarkan Uraian di atas, silakan membuat relevansi dan aplikasinya dengan penekanan pada:

1.         Keselamatan datang sebagai anugerah
Dengan tegas Paulus mengingatkan kita bahwa akibat dosa kita bagaikan orang yang perlu ditebus hutangnya agar terbebas dari ikatan perjanjian dosa. Sebagai pribadi yang terikat perjanjian itu, kita tidak bisa menebus diri kita sendiri. Di sinilah peran Yesus yang mengambil alih surat hutang tersebut dan menebus kita dengan membayar harga, yakni nyawaNya sendiri. Kita diselamatkan oleh karena anugerah Tuhan itu.

Sayangnya, ketika bicara tentang keselamatan sebagai anugerah, maka seringkali nilai dan maknanya kurang dihargai. Keselamatan adalah anugerah. Gratis tapi harganya mahal, yakni kematian Kristus bagi kita. Gratis tidak berarti murah apalagi murahan. Harganya sangat mahal yakni semahal nyawa anak Allah, Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, menghargai keselamatan adalah kesediaan kita memberi nilai terhadap anugerah yang mahal itu, lewat menjaga hidup kita agar tidak mencoreng dan mengotori nilai sakral dari keselamatan itu.

2.         Sunat Hati lebih penting dari sunat lahiriah.
Sunat hati adalah bentuk pertobatan yang mendasar, yaitu membuang dari hati sikap yang keras kepala terhadap firman Tuhan dan sikap yang terbuka kepada dosa. Bersunat hati berarti memblokir hati dari ajakan berbuat dosa, dan mengarahkannya kepada petunjuk firman. Sunat hati berarti pertobatan dari dalam. Orang bisa saja bersunat lahiriah, tetapi hati dan pikirannya tertawan dosa. Orang yang bersunat hati menjadikan hati dan pikirannya milik Kristus. Sunat hati adalah metafora lahir baru, yaitu pertobatan yang dimulai dari anugerah keselamatan oleh Yesus. Mereka yang sudah disunat hatinya mampu menolak godaan dunia untuk tetap hidup dalam dosa, sebaliknya dengar-dengaran firman Tuhan untuk hidup kudus.

Dengan kata lain, seorang yang mengaku diselamatkan dan percaya kepda Kristus, adalah pribadi yang bersedia mengekang diri dan hatinya dari berbgai perbuatan kejahatan. Bukankah menjadi kenyataan tak terpungkiri bahwa banyak yang menyebut diri Kristen, namun pola laku hidup tidak sesuai dengan Kristus? Itu berarti belum mampu menyunat hatinya. Secara lahiriah, mungkin kita menunjukkan berbagai indikasi sebagai pengikut Kristus. Pergi ke gereja, membaca Alkitab, rajin berbuat baik. Namun, jika hati kita masih menikmati dosa, diliputi ketakutan, kebimbangan, egoisme, kepentingan diri sendiri, kita harus meminta Roh Kudus menyelidiki hati kita, adakah kita sudah bersunat hati seperti yang Tuhan inginkan?

3.         Jadilah berkat bagi orang lain yang “berbeda” melalui kesaksian hidup kita.
Paulus dalam ayat 13 dan 14 mengidentifikasi dirinya dengan kaum tak bersunat alias orang2 golongan non Yahudi. Pada zaman itu tindakan Paulus tidaklah lazim. Sebab biasanya, orang Kristen Yahudi merasa lebih unggul dengan non Yahudi. Namun ketika Paulus menyapa dengan sebutan “kita” dan bukan “kamu”, maka hal itu memberi gambaran jelas bahwa Paulus menerima mereka sebagai bagian yang sama dengan dirinya. 

Bukankah seharusnya demikian orang yang sudah percaya? Pengikut Kristus harus mampu merendahkan hati di hadapan Kristus dan bersedia menerima perbedaan sebagai anugerah Allah. Mampu menganggap orang lain sebagai saudara dan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang bersaksi agar menjadi berkat bagi mereka yang berbeda dengan kita. Kita dapat menghancurkan musuh bukan dengan cara membenci musuh kita; namun dengan cara mengubahnya menjadi sahabat.

Karena itu, marilah membangun hidup kita agar berpadanan dengan Kristus. Biarlah kita tetap hidup di dalam Dia, dan dibangun Dia. Sehinga kita mampu berakar dan bertumbuh karena Kristus, sehingga berbuah bagi kemuliaan namaNya. Amin.


Sunday, August 17, 2014

BAHAN PERSIAPAN IBADAH PKP SELASA 19 AGUSTUS 2014


1 PETRUS 2:11-12

PENGANTAR
Surat Petrus Yang Pertama ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil. Mereka disebut "umat pilihan Allah". Maksud utama surat ini ialah untuk menguatkan iman para pembacanya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus mengingatkan para pembacanya akan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka. Sebab, Yesus Kristus sudah mati, hidup kembali dan berjanji akan datang lagi.

Para penerima surat 1 Petrus ini, hidup dalam masa-masa sukar. Mereka ada di zaman sulit. Saat dimana Kekristenan alami penganiayaan. Dibenci oleh Nero, sang penguasa. Tentu saja, bagi yang memiliki mentalitas cari aman, pilihan mengikuti jejak Yesus, bukanlah keputusan cerdas. Mereka akan memilih menolak salib, sebab itu derita. Terhadap yang setia beriman, namun minim pemahaman, Petrus bukan saja mencerdaskan, namun juga menguatkan melalui suratnya ini.

TAFSIRAN (uraian teks)
Surat Petrus mulai dengan menjelaskan status pembaca sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus” (2:9, sebagai kesimpulan 1:1-2:10). Oleh karena itu, “sebagai pendatang dan perantau” (2:11), pembaca harus melawan dosa dan hidup baik di tengah bangsa-bangsa, supaya Allah dimuliakan (2:12). Dalam 2:13-3:7 hal itu dijelaskan dalam rangka hierarki-hierarki masyarakat. Sebagai hamba Allah, orang percaya merdeka, tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk berbuat baik (2:16), termasuk menghormati semua orang sesuai dengan kedudukannya (2:17).

Himbauan berkelakuan baik di tengah-tengah masyarakat non-Yahudi dan ditengah penindasan para penguasa yang lalim diserukan oleh Petrus melalui bacaan ini ketika umat menghadapi penderitaan. Khusus ayat perikop bacaan kita, ada beberapa pokok penting yang ditekankan oleh Petrus, yakni:

1.       Hidup dalam kebenaran
Perhatikan ayat ayat 11bacaan kita. Petrus menganjurkan agar umat Tuhan tetap mempraktekkan “cara hidup yang baik”. Anjuran yang sama berulang kali diketengahkan dalam ayat-ayat berikutnya (2:15; 2:20; 3:6, 11, 13). Dengan melakukan ini, mereka menjadi kudus … sama seperti Dia yang kudus” (1:15). Sekaligus mereka menyatakan bahwa mereka memang berada di dunia ini, tetapi “bukan dari dunia” ini (Yoh 17:115-16). Dengan memiliki cara hidup yang baik, mereka mencerminkan karakter Allah. Apa tujuannya? Supaya Tuhan tetap dimuliakan, dan kelak nanti mereka yang mencerca orang percaya akan sadar dan turut memuliakan Allah juga.

Orang percaya diajak untuk berani tampil beda di tengah berbagai keadaan dan godaan dunia. Hal ini penting untuk menunjukkan kepada banyak orang tentang siapakah kita sesungguhnya. Bahwa orang percaya adalah pengikut Kristus, maka kita wajib menunjukkan kepada dunia tetang bagaimanakah hidup seorang pengikut Kristus itu. Berani tampil beda berarti berani untuk melawan arus godaan dunia dan kedagingan untuk berlaku hidup dalam kebenaran supaya duniamelihat karakter anak Allah dalam diri kita.

2.       Hidup menjadi Teladan
Pada ayat 12 bacaan kita, Petrus memberikan alasan menarik mengapa harus mengembangkan cara hidup yang baik di tengah2 dunia ini termasuk mereka yang tidak percaya? Tujuannya bukan saja untuk menunjukkan identitas sebagai orang percaya di tempat rantau (ay.11); tetapi juga untuk memberikan jawaban atas tuduhan tidak benar yang difitnahkan oleh orang yang tidak percaya. Jika hidup di jaga dengan perbuatan baik dan benar, maka tidak seorangpun yang dapat menemukan kekurangan kita dan membenarkan fitnahan mereka.

Di sisi lain, Petrus juga menyebutkan bahwa perbuatan baik dan benar itu bukan saja mematahkan tiap fitnahan dan tuduhan jahat orang lain, namun lebih dari pada itu akan menjadi teladan bagi orang lain. Kebenaran yang kita tunjukkan kepada orang lain, kelak justru akan menjadi alat kesaksian, sehingga mereka justru menjadi percaya dan memuliakan nama Tuhan.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Berdasarkan uraian Firman Tuhan ini, maka ada beberapa hal penting yang dapat kita relevansikan dalam kehidupan beriman kita,yakni:
1.       Budaya ikut harus dewasa ini sudah menjadi bagian hidup banyak orang. Jika ingin diterima dalam komunitas atau kelompok tertentu maka apapun harus mau dilkukan. Ikuti arusnya maka pasti akan diterima. Efek dari kondisi ini adalah banyak orang melakukan berbagai pelanggaran atau sesuatu yang bertentangan dengan isi hati hanya demi dapat diterima dan diakui oleh orang lain atau komunitas tertentu. Kondisi ini juga banyak dialami oleh orang percaya. Bahwa supaya tidak terlihat aneh atau disebut terlalu rohani maka kehidupan duniawipun rela ditekuni.

Di sisi yang lain, banyak orang percaya akhirnya memuutuskan untuk melakukan berbagai hal yang dilarang dan mengakibatkan dosa, demi untuk tidak terlihat beda atau aneh. Berpikir karena disekeliling sering memanipulasi anggaran di tempat kerja, “maka sayapun harusnya bisa, tokh tak pernah ketahuan?”. Sikap ini adalah sikap yang keliru. Petrus mengajak kita untuk berni melawn arus danbersedia tampil beda demi kebenaran dan kemuliaan Allah. Memang benar bahwa kita mungkin akan dihindari orang dan kehilangan teman atau persahabatan. Namun demi kebenaran, kita harus mampu tuntukan gaya hidup berbeda dari orang percaya.

2.       Orang percaya jaman sekarang hidup bagaikan di etalase. Apapun yang dilakukan akan dinilai dan menjadi sorotan. Kenyataannya sekarang, di dunia komunikasi yang tiada batas ini justru kekristenn kita semakin diuji. Banyak orang pasti tau beberpa tokoh Kristen terlibat dala kejahatan dan terekspos di layar televisi. Bukankah itu menjadi suatu sandungan. Kita dipanggil untuk tampil supaya menjadi kesaksian tetang Kristus dan bukan seballiknya mempermaukan Tuhan.

3.       Tamil beda juga justru bisa dijadikan alat untuk memenangkan jiwa. Dengan perbuatan benar yang dilakukan, dengan kemurahan hati yang disaksikan orang yag tidak percaya bisa saja menerima Tuhan Yesus karena ia telah berjumpa dengan Kristus melalui perjumpaan dengankita yang sangat baik dalam hal tutur kata, pola tingkah laku dan eksistensi dirikita.


Karena itu, mari bersedia tampil, beda...

Thursday, August 7, 2014

BAHAN PERSIAPAN IBADAH PKB 15 AGUSTUS 2014


BAHAN PERSIAPAN IBADAH PKB 15 AGUSTUS 2014
MAZMUR 34:16-23

PENGANTAR
Mazmur 34 ini merupakan nyanyian pujian Raja Daud kepada Tuhan sebagai syukur kepada Allah atas luputnya ia dari kesulitan di hadapan Akhis, raja kota Gat. Pada saat itu Daud berpura-pura menjadi gila sehingga tidak mengalami kejahatan di Akhis. Daud menjadi seorang pelarian walaupun baru saja di lantik menjadi raja. Ia dikejar Saul dan pengikutnya. Ancaman bahaya mengintai Daud, namun Tuhan selalu meolong dan menjaganya.

Kenyataan inilah, yakni terluputnya Daud dari kesulitan di Gat membuatnya menggubah Mazmur ini sebagai suatu ungkapan iman tentang karya Tuhan dalam hidupnya.

TELAAH PERIKOP
Ada beberapa pokok pengajaran iman yang ditulis oleh Daud dalam Mazmur 34:16-23 ini yang bukan saja berisi pujian kepada Allah tetapi pengakuan tentang siapa Allah dan siapa manusia di hadapan kuasa Allah yang dasyat itu. Pokok-pokok pikiran dimaksud adalah sbb:
1.       Keberpihakan TUHAN kepada orang benar.
Pemazur menegaskan bahwa TUHAN, Allah Israel selalu berpihak kepada orang yang benar. Hal ini nampak dalam ayat 16 bacaan kita. Menggunakan istilah mata dan telinga Tuhan yang tertuju melihat dan mendengar orang benar, memberi arti khusus bahwa perhatian Tuhan fokus pada keadaan dan kondisi yang dialami orang percaya.

Teriakan minta tolong di dengar oleh TUHAN, bahkan Iapun tahu tentang derita hidup yang dialami orang percaya. Yang menarik dari Mazmur ini adalah bahwa TUHAN bukan hanya melihat dan mendengar yang dialami dan didoakan orang percaya, tetapi juga menurut pemazmur dalam ayat 18, TUHAN segera bereaksi dan bertindak melepaskan orang benar dari segala kesesakannya.

2.       Penghukuman TUHAN kepada orang fasik
Berbeda pada orang benar, reaksi TUHAN di hadapan orang fasik sangatlah tegas. Pemazmur menyebut dalam ayat 16a bahwa TUHAN, Allah menentang orang yang berbuat jahat. Bukan hanya itu saja, bahwa siapapun yang membeci orang benar, terkategori orang fasik dan mereka pasti mendapatkan hukuman (bd.ay.22b).

Pemazmur dengan yakin menyebutkan bahwa kemalangan akan ditimpakan TUHAN kepda orang fasik (ay.22a), dan bahkan oleh karena dasyatnya kemalangan itu, orang fasik akan mengalami kematian. Sebab kemalangan tersebut adalah kemlangan  yang mematikan.

3.       Orang benar dan kemalangan hidup
Ayat 20 bacaan kita menyebutkan: “Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.” Hal ini memberikan suatu pengajaran penting bagi orang percaya bahwa menjadi orang benar bukan berarti bebas dari kemalangan hidup. Pemazmur justru mengatakan bahwa kemalangan hidup orang benar, sangatlah banyak. Apa yang disampaikan Daud ini sekaligus merupakan tantangn iman bagi orang percaya bahwa bukan hanya kebahagiaan dan sukacita hidup yang akan dialami orang percaya, namun rupanya akan ada begitu banyak kemalangan yang dialami.

Tetapi menurut pemazmur, justru lewat kemalangan hidup itulah irang benar akan elihat keberpihakan Allah tersbut. Bahwa TUHAN memang tidak pernah menjanjikan hidup ini penuh dengan kebahagiaan hidup saya karena akan ada kemalangan dan penderitaan. Namun, Tuhan tidak akan tinggal diam. Ia akan segera bergerak untuk melepaskan orang benar dari kemalangan hidup itu.


RELEVANSI DAN APLIKASI
Silakan kembangkan dan hubungankan TELAAH PERIKOP dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu aplikai dan relevansi atau penerapan khotbah.

Selamat melayani.

BAHAN PERSIAPAN IBADAH GERAKAN PEMUDA (sesuai SBP)


BAHAN PERSIAPAN IBADAH GERAKAN PEMUDA
GPIB JEMAAT BETHANIA MAKASSAR
10 DAN 11 AGUSTUS 2014



I KORINTUS 9:26-27 (10 AGUSTUS 2014)

PENGANTAR
Surat ini ditujukan oleh Paulus kepada jemaat-jemaat yang tersebar di kota Korintus. Kota Korintus dalam perjanjian baru adalah sebuah kota pelabuhan yang berada di Semenanjung Makedonia. Paulus mengunjungi Korintus pada perjalanan misi ke 2 dengan melewati medan perjalanan yang sangat berat baik melalui darat dan laut maklum waktu itu belum ada kendaraan apalagi pesawat terbang, WAKTU ITU  alat transportasi yang biasa digunakan adalah jalan kaki. 

Tapi luar biasa seorang Paulus yang telah menjadi hamba Tuhan tidak pernah mundur apapun resikonya demi memberitakan Injil. Biasanya ketika ia berpindah pada jemaat yang lain maka ia selalu menulis surat kepada jemaat jemaat yang pernah ia kunjungi. Surat adalah sarana komunikasi yang tepat waktu itu. Beda sekarang yang sangat mudah dijangkau dengan HP.

Dalam Alkitab tercatat 2 kali ia mengirim surat pada jemaat Korintus.  Kalau kita mencermati surat yang pertama dan yang kedua, telah terjadi masalah yang sangat serius dalam dinamika jemaat karena banyaknya penyusup yang menyamar sebagai pelayan untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri. Paulus banyak menulis dengan tegas untuk menjelaskan siapa dia, apa motivasi pelayanannya dan apa kerinduannya kepada jemaat  melalui surat-suratnya.

TELAAH PERIKOP (I Kor. 9:26-27)
Beberapa orang di Korintus mempertanyakan kerasulan Paulus (ay.2) dan meragukan segala bentuk pengajarannya. Di sisi lain juga timbul persoalan soal fasilitas dalam pelayanan. Jemaat Korintus banyak mengfasilitasi kebutuhan pelayanan dari tenaga pelayan terutama para rasul dan pemberita injil. Namun menariknya adalah terdapat perlakukan tidak adil yang diterima oleh Paulus dan Barnabas mengenai fasilitas pelayanan itu (ay.6).

Fasilitas pelayanan apakah yang dimaksud oleh Paulus? Jika memperhatikan ayat 6 bacaan perikop ini maka kita mendapat kesan bahwa HAK RASUL yang dimaksud oleh Paulus adalah dibebaskan dari pekerjaan tangan karena tanggungjawab yang harus fokus dalam pelayanan. Adalah hak para rasul untuk mengharapkan mendapat imbalan duniawi (makanan, minuman, hak untuk menikah, dll) setelah melaksanakan tanggungjawab pelayanan (ay.5, 8-12). Mengapa hal ini ditegaskan oleh Paulus? Sebab adalah hak Paulus sebagai rasul untuk hidup dari pemberitaan injil setelah ia memberitakan injil (ay.14). Hal ini secara tidak langsung mengkritik Korintus yang mengabaikan pembiayaan kebutuhan hidup para pelayan, termasuk pada rasul Paulus, yang telah berjerih payah melayani.

Yang menarik dari uraian tentang hak Rasuli ini, kita menemukan ayat 15 yang menjelaskan soal integritas pelayan Tuhan yang ditunjukkan oleh Paulus. Hak Rasul itu TIDAK PERNAH DIPERGUNAKANNYA. Hal ini memberi indikasi bahwa kemungkinan besar bahwa Paulus tidak menikah. Dan untuk kelangsungan hidupnya, ia tidak meminta hal dari jemaat, melainkan berusaha sendiri sebagai pembuat tenda untuk menghidupi keluarganya. 

Mengapa Paulus tidak sibuk mengejar-ngejar hak nya itu? Hal ini terjawab dalam ayat 26-27 bacaan kita. Rupasnya fokus pelayanan Paulus bukanlah fasilitas pelayanan dan hak yang harus ia peroleh dari hasil melayani. Fokus pelayanan Paulus adalah pelayanan itu sendiri. Ia mengandaikan bahwa melayani dalam pelayanan itu bagaikan melakukan pertandingan dalam gelanggang pertandingan dengan target menjadi juara atau menang mencapai garis akhir (ay.24). Dengan kata lain, fokus pelayanan Paulus adalah mengakhiri pelayanan hingga tuntas dan selesai.

Bagaimanakah cara Paulus untuk mengakhiri dengan baik dan memenangkan pertandingan dalam gelangan pelayanan? Apakah strategi Paulus agar tetap fokus dalam pelayanan? Ada beberapa pokok penting yang disampakan Paulus:
1.       Menguasai diri dalam segala hal (ay.25)
Menguasai diri yang dimaksud Paulus adalah dalam segala hal. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pelayan perlu mengasah kemampuan, kekuatan dan potensi diri kearah peningkatan optimal sehingga dalam segala hal dan segala kebutuhan dapat menyelesaikan dengan baik dan benar. Adalah penting unuk menguasai dir dalam segala hal. Sebab bukankah banyak orang mengalami kejatuhan justru karena penguasaan diri yang kurang baik? Entah itu menyakut emosi dan mentalitas diri.

2.       Tujuan yang benar (ay.26)
Maksud Paulus dari ayat 26 ini sangat jelas. Jika tujuan tidak dimiliki saat melakukan sesuatu maka akan sia-sia. Seorang petanding memiliki tujuan untuk beroleh makota atau piala. Bagaimana dengan kekristenan itu? Paulus menyebut dalam Filipi 3:14 bahwa tujuannya melayani adalah untuk menjawab panggilan Tuhan Yesus untuk memperoleh hadiah panggilan sorgawi. Tujuan yang tepat akan memberikan motivasi yang tepat juga. Inilah yang dinaksud oleh Paulus.

3.       Menyiapkan dengan baik agar tidak ditolak (ay.27)
Melatih tubuhku yang dimaksudkan, tentu saja, adalah disiplin diri. Berjalan dengan Allah menuntut adanya pengorbanan diri, pengorbanan hal-hal yang tidak harus jahat, tetapi yang menghalangi pengabdian jiwa sepenuhnya kepada Allah - seperti berbagai kesenangan dan keuntungan duniawi. Pada zaman yang mengutamakan kemewahan, seperti saat ini, kata-kata Paulus ini memiliki makna nyata bagi hamba Kristus yang sungguh-sungguh. Paulus memanggil banyak orang untuk ikut berlomba dalam kehidupan Kristen melalui Injil. Dia tidak ingin ditolak. Kata ini tidak berarti kehilangan keselamatan. Artinya secara harfiah ialah tidak disenangi. Jelas sang rasul memperhatikan agar ia tidak ditolak oleh wasit pertandingan untuk memperoleh hadiahnya. Dia tidak takut dihalangi sang bentara untuk ikut di dalam lomba. Semua ikut berlari, tetapi tidak semua menerima hadiah; dan Paulus ingin memperoleh hadiah itu.

RELEVANSI DAN APLIKASI (diksusikan)